Senin, 14 Mei 2012

METABOLISME


BAB 2
PEMBAHASAN

2.1    DEFENISI METABOLISME
Metabolism adalah proses pemecahan zat-zat gizi di dalam tubuh untuk menghasilkan energi atau untuk pembentukkan struktur tubuh. Suatu rentetan reaksi kimia dari awal hingga akhir yang terjadi dalam metabolism di namakan jalur metabolisme. Jalur metabolism terdiri atas reaksi-reaksi anabolisme dan katabolisme.reaksi anabolisme adalah reaksi membangun dari ikatan sederhana ke ikatan yang lebih besar dan komleks. Misalnya glukosa di ubah menjadi glikogen, asam lemak dan gliserolmenjadi trigliserida, serta asam amino menjadi protein. Proses anabolisme memerlukan energi.

Reaksi gambar anabolismepada pembentukan glikogen, trigliserida,dan protein. Reaksi-reaksi ini membutuhkan energi
Reaksi katabolisme adalah reaksi yang memecah ikatan kompleks menjadi ikatan lebih sederhana. Reaksi katabolisme biasanya melepaskan energy. Contoh :katbolisme adalah pemecahan glikogen menjadi glukosa, trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak sertaq protein menjadi asam amino.

Reaksi katabolisme menjadi antara lain pada pemecahan glikogen, trigliserida, dan protein . katabolisme glukosa, gliserol, asam lemak, dan asam amino selanjutnya menghasilkan energi.

2.1.1    PINDAH ENERGI DALAM METABOLISME
Energi dalam tubuh berasal dari fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Energi ditangkap dalam ikatan kimia molekul-molekul kabohidrat,protein lemak dan alkoholo.dalam proses katabolisme tubuh kemudian mengubah energi ini kedalam  berbagai bentuk eneergi lain: energi kimia untuk membentuk ikatan kimia baru,energi mekanis untuk menggerakan otot-otot, energi elektris untuk untuk mengalirkan transmisi saraf dan energi osmotis untuk mempertahankan keseimbangan isi antar sel energi kimia ini di peroleh dari makanan pada akhirnya akan di keluarkan oleh tubuh sebagai panas.

2.1.2    Adenosin trifosfat
Energi yang di gunakan sel pada umumnya adalah dalam bentukadenosin trifosfat (ATP). Setiap sel membuat ATP untuk keperluan energinya. Energi yang di keluarkan melalui proses katabolisme sering di gunakan lagi dalam reaksi berantai untuk membentuk ikatan berenergi tinggi ATP. ATP terutamadi peroleh melalui fotosintesis oksidatif. ATP yang mengandung tiga gugus fosfat kemudian dapat dengan mudah memindahkan energi yang di kandungnya yang ada dalam ikatan kimia lain.
Demikianlah pemecahan zat gizi sumber energi di ikuti oleh pembentukan molekul-molekul ATP yang menangkap energi yang di lepas kedalam ikatannya. Bila kemudian energi di butuhkan , ikatan berenergi tinggi dalam gugus fosfat akan dilepas melalui hidrolisis.
ADP dapat dihidrolisis lagi menjadi AMP+Pi. pemecahan ikatan di antara ikatan fosfat pertama dan kedua atau diantara fosfat kedua dan ketiga menghasilkan energi.  Energi yang dilepas ini digunakan lagi untuk reaksi kimia lain. Hanya energi berupa ATP dapat digunakan sebagai energi oleh sel. Dengan demikian koma ATP di gunakan untuk memindahkan energi yang dihasilkan oleh reaksi katabolisme untuk keperluan reaksi anabolisme. Kurang lebih 40% dari energi potensial yang berasal dari zat-zat gizi di simpan alam bentuk ATP dan selebihnya di lepas sebagai panas. Sebagian dari panas digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh, selebihnya dikeluarkan dari tubuh melalui penguapan dari kulit atau berupa pengeluaran panas secara langsung.
Sebagian besar metabolism terjadi didalam sel-sel tubuh. Jenis dan tingkat metabolism terjadi yang tergantung pada jenis sel. Sel-sel hati merupakan sel-sel yang paling aktif dalam metabolism



2.1.3    PERANAN ENZIMDAN KOENZIM DALAM METABOLISME
Metabolisme selalu membutuhkan enzim untuk membantu reaksi- reaksi yang terjadi.kadang- kadang enzim membutuhkan pembantu berupa koenzim.
Enzim adalah protein khusus yang berperan sebagai katalisator dalam reaksi kimia,tetapi tidak mengalami perubahan selama proses berlangsung.koenzim adalah zat organikbukan protein yang membantu aktivitas enzim.Banyak koenzim yang bagian strukturnya terdiri dari vitamin B.

2.1.4    PEMECAHAN ZAT- ZAT GIZI SUMBER ENERGI
Glukosa,gliserol,asam lemak,asam amino, dan alkohol merupakan bahan dasar yang diperoleh dari makanan sebagai sumber energi.


2.2    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI METABOLISME
        Factor-faktor yang meningkatkan aktifitas kimia dalam sel juga meningkatkan kecepatan metabolisme. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
1.    Gerak badan
Factor yang menyebabkan efek yang paling dramatis pada kecepatan metabolisme sejauh ini adalah gerak berat badan. Kontraksi otot maksimum yang berlangsung singkat pada salah satu otot, melepaskan panas sebanyak 100 kali panas yang dikeluarkan pada waktu istirahat selama beberapa detik untuk satu waktu. Akan tetapi, dalam keseluruhan tubuh, gerak otot maksimum dapat meningkatkan seluruh pembentukan panas tubuh selama beberapa detik sampai sekitar 50 kali normal atau dipertahankan selama berapa menit sampai sekitar 20 kali normal pada atlit yang terlatih baik, yang merupakan peningkatan kecepatan metabolisme sampai 2000% dari normal.

2.    Kebutuhan energy untuk aktivitas sehari-hari
Bila pria rata-rata 70 kg berbaring di tempat tidur sepanjang hari, ia menggunakan sekitar 1650 kalori energy. Proses makan meeningkatkan jumlah energy yang digunakan setiap hari dengan tambahan 200 kalori atau lebih sehingga pria yang sama yang berbaring pada tempat tidur dan juga makan diet yang layak membutuhkan masukan sehari-hari sekitar 1850 kalori perharikecepatan penggunakan energy sementara seseorang melakukan berbagai jenis aktivitas. Perhatikan bahwa naik tangga memerlukan hamper 17 kali sebanyak energy yang diperlukan sewqaktu tidur ditempat tidur. Pada umumnya dalam masa 24 jam seseorang pekerja dapat mencapai kecepatan penggunaan energy yang maksimum sebesar 6000 sampai 7000 kalori dengan perkataan lain sebanyak 3,5 x kecepatan metabolism basal.


3.    Hormone tiroid
Bila kelenjar tiroid menyekresi tiroksin dalam jumlah maksimum, laju metabolism kadang-kadang meningkat sampai setinggi 100% diatas normal. Sebaliknya, kehilangan total sekresi tiroid menurunkan laju metabolism serendah 50-60% normal. Efek ini dengan mudah dapat dijelaskan dengan fungsi dasar tiroksin untuk meningkatkan laju aktivitas pada hampir semua reaksi kimia dalam semua sel tubuh. Hubungan antara tiroksin dan laju metabolisme akan dibicarakan jauh lebih luas dalam hubungannya dengan fungsi tiroid, karrna salah satu metode yang paling bermanfaat untuk mendiaknosis kecepatan sekresi tiroid abnormal adalah  menentukan laju metabolism basal penderita.

Tabel 1.             Energy Yang Digunakan Per jam Selama Berbagai Jenis Aktivitas Bagi Pria 70 Kg

4.    Perangsangan Simpatis
Perangsangan sistem saraf simpatis disertai dengan pengeluaran norepinefrin dan epinefrin meningkatkan laju metabolism pada hakekatnya pada semua jaringan tubuh. Hormone ini mempunyai efek langsung pada sel untuk menyebabkan glikogenolisis, dan hal ini, mungkin bersam dengan efek intra sel lain hormone tersebut meningkatkan aktifitas sel.
Perangsangan  maksimum susunan saraf simpatis dapat meningkatkan laju metabolism pada beberapa binatang tingkat rendah sebanyak beberapa ratus persen, tetapi besar efek ini pada manusia masih dalam pertanyaan. Mungkin 15% atau kurang pada orang dewasa, tetapi sebanyak  900% pada Neonatus.

2.3    METABOLISME KARBOHIDRAT
Karbohidrat yang ada dalam makanan sebagian besar berupa polimer heksosa,di antaranya yang paling penting adalah glukosa,galaktosa,dan fruktosa (Gambar 1) . Kebanyakan monosakarida yang terdapat di dalam tubuh adalah isomer D.produk utama pencernaan karbohidrat dan gula sirkulasi utama adalah glukosa.Dalam darah vena perifer,kadar normal glukosa plasma saat puasa adalah 70-110 mg/dL (3,9-6,1 mmol/L).Dalama darah arteri,kadar glukosa plasma adalah 15-30 mg/dL lebih tinggi di  banding kadar glukosa darah vena.
Begitu masuk ke dalam sel,dalam keadaan normal glukosa difosforilasi menjadi glukosa-6-fosfat.Enzim yang mengatalisis reaksi ini adalah heksokinase.selain enzim tersebut,di dalam hati terdapat juga juga enzin yang di sebut glukokinase,yang memiliki spesifisitas yang lebih tinggi untuk glukosa dan,tidak seperti heksokinase,kadarnya meningkat oleh insulin dan menurun pada keadaan kelaparan dan diabetes.Glukosa 6-fosfat kemudian di polimerisasi menjadi glikogen atau di katabolisasi. Langkah-langkah yang berperan di jelaskan secara garis besar dalam gambar 2. proses pembentukan glikogen di sebut glikogenesis,dan pemecahan glikogen di sebut glikogenolisis.Glikogen,bentuk simpanan glukosa,terdapat di dalam kebanyakan jaringan tubuh,tetapi pasokan Utamanya terdapat dalam hati dan otot rangka.Pemecahan glukosa menjadi piruvat atau laktat (atau keduanya) di sebut glikolisis ,katabolisme glukosa berjalan melalui pemecahan fruktosa menjadi triosa atau melalui oksidasi dan dekarboksilasi menjadi pentosa.jalur menjadi piruvat melalui triosa adalah jalur Embden-Meyerhof,dan yang melalui 6-fosfog-lukonat dan pentosa adalah jalur oksidatif langsung (pirau heksosa monofosfat) (Gambar 2).



 D-Gal aktosa 1
Gambar 1. Struktur heksosa utama dalam makanan. Ditampilkan isomer-isomer D yang terdapat di Alam.

 
Gambar 2 . Bagan metabolisme karbohidrat dalam sel

piruvat diubah menjadi asetil-KoA.interkonversi antara karbohidrat,lemak,dan protein mencakup konversi (perubahan) gliserol dari lemak menjadi dihidroksiaseton fosfat dan konversi sejumlah asam amino,yang mempunyai kerangka karbon yang menyerupai zat-antara dalam jalur Embden-Meyerhof dan siklus asam sitrat ,menjadi zat-zat antara ini dengan deaminasi.Dengan cara ini,dan dengan konversi laktat menjadi glukosa,molekul nonglukosa dapat di ubah menjadi glukosa (glukoneogenesis).
Glukosa dapat di ubah menjadi lemak melalui asetil KoA,tetapi karena konversi piruvat menjadi asetil KoA,reaksi ini menjadi ireversibel tidak seperti kebanyakan reaksi dalam glikolisis (Gambar 3); karena itu, lemak tidak dapat di ubah menjadi glukosa melalui jalur ini.Maka, sangat sedikit konversi akhir lemak menjadi karbohidrat di dalam tubuh karena tidak ada jalur untuk konversi kecuali produksi dari gliserol yang secara kuantitatif tidak berarti.
Siklus Asam Sitrat
 
Gambar 3. Siklus asam sitrat. Perubahan piruvat menjadi asetil-KoA dan setiap perputaran siklus menghasilkan 4 NADH dan 1 FADH2 untuk oksidasi melalui rantai flovoprotein-sitokrom plus pembentukan 1 GTP yang cepat diubah menjadi ATP

Siklus asam sitrat (siklus krebs,siklus asam trikarboksilat) adalah serangkaian reaksi untuk memetabolisasi  asetil KoA menjadi CO2 dan atom H.Asetil KoA pertama kali di kondensasi dengan anion asam 4-karbon.oksaloasetat,untuk membentuk sitrat dan HS-KoA.Dalam sebuah rangkaian yang terdiri dari tujuh reaksi berurutan,2 molekul CO2 di keluarkan,sehingga terbentuk lagi oksaloasetat (Gambar 3).
Empat pasang atom H di pindahkan ke rantai flavoprotein-sitokrom,menghasilkan 12 ATP dan 4 H2O,2H2O di antaranya di pakai dalam siklus ini.siklus asam sitrat merupakan jalur umum untuk oksidasi karbohidrat ,lemak,dan beberapa asam amino menjadi CO2 dan H2O.jalur masuk utama menuju siklus ini adalah melalui asetil-KoA,tetapi sejumlah asam amino dapat di ubah menjadi zat-zat antara siklus asam sitrat melalui proses deaminasi.siklus asam sitrat memerlukan O2 dan tidak berfungsi pada kondisi anaerobik.

2.3.1    Produksi Energi
Produk bersih senyawa fosfat kaya-energi selama metabolisme glukosa dan glikogen menjadi piruvat bergantung pada apakah metabolisme tersebit terjadi melalui jalur Embdenmeyerhof atau melalui pirau heksosa monofosfat.Dengan oksidasi pada tingkat substrat,perubahan 1 mol fosfogliseraldehida menjadi fosfogliserat menghasilkan 1 mol ATP,dan perubahan 1 mol fosfoenolpiruvat menjadi piruvat menghasilkan 1 mol lagi.karena 1 mol glukosa 6-Fosfat menghasilkan 2 mol fosfogliseraldehida melalui jalur EmbdenMeyerhof,akan di hasilkan 4 mol ATP per mol glukosa yang di metabolisasi menjadi piruvat.semua reaksi ini terjadi tanpa adanya O2 dan karena itu merupakan produksi energi anaerob.Namun,1 mol ATP di gunakan dalam membentuk fruktosa1,6-difosfat dari fruktosa 6-fosfat dan 1 mol dalam memfosforilasi glukosa ketika memasuki sel.Akibatnya,kalau piruvat di bentuk secara anaerob dari glikogen,terdapat produksi bersih 3 mol ATP per mol glukosa 6-fosfat;tetapi,kalau piruvat di bentuk dari 1 mol glukosa darah ,akhirnya hanya 2 mol ATP.
Pasokan NAD+ diperlukan untuk mengubah fosfogliseraldehida menjadi fosfogliserat.dibawah kondisi anaerob(glikolisis anaerob),satu hambatan glikolisis pada tahap konversi fosfogliseraldehida dapat di harapkan segera terjadi begitu NAD+ yang tersedia diubah menjadi NADH.Namun piruvat menerima hidrogen dari NADH,membentuk NAD+ dan laktat.
Piruvat + NADH _ laktat + NAD
Dengan cara ini,metabolisme glukosa dan produksi energi dapat berlanjut terus tanpa O2 untuk sementara.laktat yang menumpuk diubah kembali menjadi piruvat asalkan pasokan O2 pulih kembali,NADH mentransfer hidrogennya ke rantai flavoprotein-sitokrom.
Selama glikolisis aerob,produksi aerob produksi bersih ATP 19 kali lebih besar dari pada dua mol ATP yang di hasilkan di bawah kondisi anaerob.Enam ATP di bentuk dengan oksidasi melalui rantai flavoprotein-sitokrom dari dua NADH yang di produksi ketika 2 mol fosfogliseraldehida di ubah menjadi fosfogliserat (Gambar 17-9);enam ATP dibentuk dari dua NADH yang dihasilkan
ketika 2 mol piruvat di ubah menjadi asetil-KoA;dan 24 ATP dibentuk pada 2 putaran siklus asam sitrat berikutnya.Dari yang di hasilkan ini,18 dibentuk dengan oksidasi enam NADH,empat dengan oksidasi dua FADH2,dan dua dengan oksidasi pada tingkat substrat ketika suksinil-KoA diubah menjadi suksinat.Reaksi ini sebenernya menghasilkan GTP,tetapi GTP tersebut di ubah menjadi ATP.jadi,produksi bersih ATP per mol glukosa darah yang dimetabolisasi secara aerob melalui jalur Embden-Meyerhof dan siklus asam sitrat adalah 2 +  (2*3) + (2*3) + (2*12) = 38
Oksidasi glukosa melalui pirau heksosamanofosfat menghasilkan banyak NADPH.Pasokan koenzim tereduksi ini penting untuk banyak proses metabolik.Pentosa yang terbentuk dalam proses ini merupakan rangka bangun untuk nukleotida (lihat bawah).jumlah ATP yang di hasilkan bergantung pada jumlah NADPH yang di ubah menjadi NADH dan kemudian dioksida.

”Katup Pengarah Aliran”
Metabolisme diatur oleh berbagai macam hormon dan faktor lain.Untuk menghasilkan perubahan bersih apapun di dalam suatu proses metabolisme tertentu,faktor pengatur jelas harus menggerakkan suatu reaksi kimia ke satu arah. Kebanyakan reaksi di dalam metabolisme-antara bersifat reversibel bebas,tetapi ada sejumlah ”katup pengarah aliran” (directional-flow valves), yakni reaksi yang berjalan satu arah di bawah pengaruh satu enzim atau mekanisme transpor dan dengan arah yang berlawanan di bawah pengarh enzim yang lain.lima contoh di dalam metabolisme-antara karbohidrat diperlihatkan di Gambar 4. jalur yang berbeda untuk sintesis dan katabolisme asam lemak (lihat bawah) adalah contoh yang lain.faktor pengatur memengaruhi metabolisme dengan bekerja langsung atau tak langsung pada ”katup pengarah aliran” ini.

Gambar 4. Lima contoh katub pengarah aliran dalam metabolisme karbohidrat; reaksi-reaksi yang berlangsung satu arah dengan satu mekanisme dan dengan arah yang berlawanan dengan mekanisme yang berbeda. Garis ganda dalam contoh 5 menggambarkan membran mitokondria. Piruvat diubah menjadi malat di dalam mitokondria dan malat berdifusi ke luar mitokondria masuk ke sitosol, untuk diubah menjadi fosfoenolpiruvat

2.3.2    Sintesis & Penguraian Glikogen
Glikogen adalah suatu polimer glukosa bercabang dengan dua jenis ikatan glikosida: 1:4 dan 1:6 (Gambar 5). Glikogen di sintesis pada glikogenin,suatu protein primer,dari glukosa 1-fosfat melalui uridin difosfoglukosa (UDPG).Enzim glikogen sintase mengatalisis reaksi sintetik terakhir.ketersediaan glikogenin adalah salah satu faktor yang menentukan jumlah glikogen yang di bentuk.penguraian glikogen di ikatan 1:4 di katalisis oleh fosforilase,sementara pemecahan glikogen di ikatan 1:6 di katalisis oleh enzim lain.
Fosforilase sebagian di aktifkan oleh kerja epinefrin pada reseptor adrenergik-   di hati.sebaliknya,aktifnya fosforilase ini mengawali suatu rangkaian reaksi yang menjadi satu contoh klasik kerja hormon melalui cAMP (Gambar 6). Protein kinase A diaktifkan oleh cAMP dan mengatalisis pemindahan satu gugus fosfat ke fosforilase kinase,yang mengubahnya menjadi bentuk aktif.fosforilase kinase kemudian mengatalisis fosforilasi dan aktivasi fosforilase.fosforilase inaktif dikenal sebagai fosforilase b (defosfofosforilase),dan fosforilase aktif di sebut fosforilase a (fosfofosforilase).



Gambar 5. Pembentukan dan pemecahan glikogen. Pengaktifan fosforilase a diringkas pada gambar 6.

Gambar 6. Jenjang reaksi epinefrin Untuk mengaktifkan fosforilase. Glukagon mempunyai kerja yang sama di hati tetapi tidak di otot rangka .

Pengaktifan protein kinase A oleh cAMP tidak hanya meningkatkan pemecahan glikogen melainkan juga menghambat sintesis glikogen.Glikogen sintase aktif dalam bentuk terdefosforilasi dan tidak aktif kalau mengalami fosforilasi,dan enzim ini terfosforilasi bersama dengan fosforilase kinase ketika protein kinase A diaktifkan
Glikogen juga di pecah oleh kerja katekolamin pada reseptor adrenergik-  di hati.pemecahan ini di perantarai oleh Ca  intrasel dan melibatkan aktivasi fosforilase kinase yang tidak bergantung pada cAMP.
Karena hati mengandung enzim glukosa  6-fosfatase ,banyak glukosa glukosa 6-fosfat yang terbentuk di dalam organ ini dapat di ubah menjadi glukosa dan memasuki aliran darah, meningkatkan kadar glukosa plasma.Ginjal juga ikut andil pada peningkatan kadar glukosa ini.jaringan lain tidak mengandung enzim ini,sehingga di dalam organ-organ itu sebagian besar glukosa 6-fosfat di katabolisasi melalui jalur Embden-meyerhof dan jalur pirau heksosamono fosfat.katabolisme glukosa yang meningkat di otot rangka menyebabkan peningkatan kadar laktat di dalam darah. Dengan merangsang adenilsiklase,epinefrin menyebabkan pengaktifan fosforilase di hati dan otot rangka.Akibat Aktivasi ini adalah nainya kadar glukosa plasma dan laktat dalam darah.Glukagon mempunyai kerja yang serupa,tetapi efeknya hanya pada fosforilase di hati.Akibatnya,glukagon menyebabkan peningkatan glukosa plasma tanpa perubahan pada laktat darah .

2.3.3    Sindrom McArdle
Pada keadaan klinis yang di kenal sebagai sindrom McArdle atau glikogenosis defisiensi miofosforilase,glikogen menumpuk di dalam otot rangka karena defisisensi fosforilase otot.pasien penyakit ini mengalami nyeri dan kekakuan otot saat berolaraga sehingga toleransi pasien dalam berorahraga sangat menurun;mereka tidak dapat memecah glikogen otot mereka untuk menyediakan energi untuk kontraksi otot.dan glukosa yang mencapai otot mereka dari aliran darah hanya cukup untuk keperluan kerja yang sangat ringan saja.mereka memberi respons dengan peningkatan normal glukosa plasma kalau di beri glukagon atau epinefrin,yang menunjukkan bahwa fosforilase hati mereka normal.

2.3.4    Glukostat Hati
Akan terjadi penyerapan glukosa  netto oleh hati kalu glukosa plasma tinggi dan pembebasan netto kalu kadarnya rendah.Karena itu,hati berfungsi sebagai semacam ”Glukostat”,yang mempertahankan kadar glukosa sirkulasi agar tetap konstan.fungsi ini tidak otomatis;penyerapan dan pengeluaran glukosa di pengaruhi oleh kerja banyak hormon.

2.3.5    Penanganan Glukosa oleh Ginjal
Di ginjal,glukosa di filtrasi secara bebas;tetapi pada kadar glukosa plasma yang normal,semua glukosa dapat diabsorpsi kembali di tubulus proksimal tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit.
Kalau jumlah yang difiltrasi bertambah banyak,reabsorpsinya meningkat,tetapi ada batas jumlah glukosa yang dapat direabsorpsi oleh tubulus proksimal.kalau kadar maksimum tubulu untuk glukosa (tubular maximum for glucose,TmG) di lewati,akan terdeteksi glukosa yang cukup banyak di dalam urine (glikosuria).Ambang ginjal untuk glukosa,yaitu kadar darah arteri yang dapat menimbulkan glikosuria,dicapai kalau konsentrasi glukosa plasma vena sekitar 180 mg/dL,tetapi dapat lebih tinggi kalau laju filtrasi glomerulusnya rendah.
2.3.6    Glikosuria
Glikosuria terjadi jika kadar glukosa plasma meningkat karena defisiensi insulin relatif (diabetes melitus) atau karena glikogenolisis yang berlebihan setelah terjadi trauma fisik atau emosi.pada beberapa orang,mekanisme transpor glukosa di tubulus ginjal sudah cacat sejak lahir,sehingga glikosuria terjadi pada kadar glukosa plasma yang normal.



2.3.7    Faktor yang Menentukan kadar Glukosa plasma
Kadar glukosa plasma saat di tentukan oleh keseimbangan antara jumlah glukosa yang masuk kedalam aliran darah dan jumlah yang meninggalkannya.oleh karena itu penentu utamanya adalah asupan makanan; kecepatan pemasukan ke dalam sel otot,jaringan adiposa,dan organ-organ lain; dan aktivitas glukostatik hati (Gambar 7).lima persen glukosa yang di konsumsi langsung diubah menjadi glikogen di dalam hati,dan 30-40% di ubah menjadi lemak.Sisanya di metabolisasi di dalam otot dan jaringan lain.pada waktu puasa,glikogen hati di pecah dan hati melepaskan glukosa ke dalam aliran darah.


Gambar 7. Homeostasis glukosa plasma, perhatikan fungsi glukostatik hati, serta keluarnya glukosa dalam urine apabila ambang ginjal terlampaui (tanda panah terputus-putus)

kalau puasanya lebih lama lagi,glikogen habis dan terjadi peningkatan glukoneogenesis dari asam amino dan gliserol di dalam hati. pada orang normal,glukosa plasma turun sedang menjadi sekitar 60 mg/dL selama kelaparan berkepanjangan,tetapi tidak timbul gejala hipoglikemia karena glukoneogenesis mencegah terjadinya penurunan lebih lanjut.

2.3.8    Homeostasis Karbohidrat Selama Olahraga
Pada seorang laki-laki 70 kg,simpanan karbohidrat total adalah 2500 kkal,di simpan dalam 400 g glikogen otot,100 g glikogen hati,dan 20 g glukosa di dalam cairan ekstrasel.sebaliknya,112.000 kkal (sekitar 80 % pasokan bahan bakar tubuh) di simpan dalam lemak dan sisanya dalam protein.Otot yang beristirahat menggunakan asam lemak untuk metabolismenya,demikian pula yang di kerjakan otot setelah berolahraga,dan sel darah meranh menggunakan sebagian besar persetanse sisanya.
Pada waktu olahraga,keperluan kalori otot mula-mula dipenuhi oleh glikogenolisis di otot dan peningkatan ambilan glukosa.Glukosa plasma mula-mula naik karena meningkatnya glikogenolisis hiti tetapi dapat turun pada olahraga yang berat dan lama.glukoneogenesis meningkat (Gambar 8). Insulin plasma turun,dan glukagon serta epinefrin plasma meningkat.Setelah Olahraga,glikogen hati diisi lagi oleh glukoneogenesis tambahan dan terjadi penurunan pengeluaran glukosa oleh hati.

2.3.9    Regulasi Glukoneogenesis
Bukti-bukti terakhir mengisyaratkan bahwa PGC-1,suatukoaktivator transkripsi,berperan sentral dalam pengaturan glukoneogenesis hati;koaktivator transkripsi adalah suatu molekul yang tidak mengikat DNA dengan sendirinya,tetapi berfungsi sebagai penghubung fungsional antara regulator gen dan sintesis mRNA.PGC-1 sangat meningkat pada keadaan puasa dan pada diabetes yang di picu oleh streptozosin.mencit ob/ob,dan knockout reseptor insulin hati;glukoneogenesis yang di induksi oleh PGC-1,dan aktivitas penuhnya,mmemerlukan pengaktivan reseptor glukokortikoid,yang juga meningkatkan glukoneogenesis.

2.3.10    Metabolisme Heksosa Selain Glukosa
Heksosa-heksosa lain yang diabsorpsi dari usus antara lain adalah galaktosa,yang dilepaskan dari pencernaan laktosa dan diubah menjadi glukosa di dalam tubuh;dan fruktosa,yang sebagian berasal dari makanan dan sebagian diproduksi dengan hidrolisis sukrosa.Setelah fosforilasi,galaktosa bereaksi dengan uridin difosfoglukosa (UDPG) untuk membentuk uridin difosfogalaktosa.Uridin difosfogalaktosa di ubah kembali menjadi UDPG,dan UDPG berfungsi dalam sintesis glikogen (Gambar 5).Reaksi ini bersifat reversibel,dan perubahan UDPG menjadi uridin difosfogalatosa menghasilkan galaktosa yang deperlukan untuk membentuk glikolipid dan mukoprotein jika asupan galaktosa dari makanan kurang.Penggunaan galaktosa,seperti halnya penggunaan glukosa,bergantung pada insulin.pada kelainan metabolisme bawaan yang di kenal sebagai galaktosemia,terdapat defisiensi kongenital galaktosa 1-fosfat uridin transferase,suatu enzim yang bertanggung jawab atas reaksi antara galaktosa 1-fosfat dan UDPG,sehingga galaktosa yang dimakan menumpuk di dalam sirkulasi.Hasilnya adalah gangguan serius pada pertumbuhan dan perkembangan.tetapi dengan diet bebas galaktosa memperbaiki kondisi ini tanpa menimbulkan defisiensi galaktosa,karena enzim yang di perlukan untuk membentuk uridin difosfogalaktosa dari UDPG tersedia. Fruktosa sebagian diubah menjadi fruktosa 6-fosfat dan kemudian di metabolisasi melalui fruktosa 1,6 difosfat (Gambar 2). Enzim yang mengatalisis pembentukan fruktosa 6-fosfat adalah heksokinase,enzim yang sama dengan yang mengatalisis perubahan glukosa menjadi glukosa 6-fosfat.Namun,jauh lebih banyak fruktosa yang di ubah mmenjadi fruktosa  1-fosfat dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh fruktokinase.

Gambar 8. Keluaran glukosa splanknik (hepatik), yang memperlihatkan keluaran yang diakibatkan oleh glikogenolisis (balok yang tidak berwarna) dan keluaran yang diperkirakan akibat glukoneogenesis (dalam tanda kurung kurawal). Angka-angka untuk glukoneogenesis adalah nilai-nilai terukur untuk ambilan berbagai prekursor glukoneogenesis oleh splanknik.

Kebanyakan fruktosa 1-fosfat kemudian di pecah menjadi dihidroksiaseton fosfat dan gliseraldehid.Gliseraldehid mengalami fosforilasi,danhasilnya beserta dihidroksiaseton fosfat memasuki jalur-jalur untuk metabolisme glukosa.Karena reaksi yang berjalan melalui fosforilasi fruktosa di posisi 1 dapat terjadi dengan kecepatan normal tanpa perlu insulin,dianjurkan bahwa fruktosa di berikan pada penderita diabetes untuk mengisi kembali simpanan karbohidrat mereka.Namun,kebanyakan fruktosa dimetabolisasi di usus dan hati,sehingga manfaatnya dalam mengisi kembali karbohidrat di bagian tubuh lain terbatas.
Fruktosa 6-fosfat dapat juga difosforilasi di posisi 2,membentuk fruktosa 2,6-difosfat.Senyawa ini merupakan pengaturan yang penting pada glukoneogenesis hati.jika kadar fruktosa 2,6-difosfat tinggi,perubahan fruktosa 6-fosfat menjadi fruktosa 1,6-difosfat di permudah,sehingga pemecahan glukosa menjadi piruvat meningkat.Turunnya kadar fruktosa 2,6-difosfat mempermudah reaksi balik dan dengan demikian membantu glukoneogenesis.Salah satu kerja protein kinase yang di hasilkan oleh kerja glukagon adalah menurunkan fruktosa 2,6-difosfat hati.


2.4    METABOLISME LIPID
    Istilah lipida meliputi senyawa-senyawa heterogen, termasuk lemak dan minyak yang umum dikenal di sedalam makanan, malam, fosfolipida, sterol dan ikatan lain sejenis yang terdapat di dalam  makanan dan tubuh manusia. Lipida mempunyai sifat  meliputi senyawa-senyawa heterogen, termasuk lemak dan minyak yang umum dikenal di sedalam makanan, malam, fosfolipida, sterol dan ikatan lain sejenis yang terdapat di dalam  makanan dan tubuh manusia. Lipida mempunyai sifat yang sama, yaitu larut dalam pelarut nonpolar, seperti etanol, eter, kloroform dan benzena.
2.4.1    KLASIFIKASI LIPIDA
    Klasifikasi lipida yang penting dalam ilmu gizi menurut komposisi kimia dapat dilakukan sebagai berikut:
A.    Lipida Sederhana

1)    Lemak netral
Monogliserida, digliserida dan trigliserida (ester asam lemak dan gliserol). Sebagian besar lemak dan minyak dalam alam tediri atas 98-99 % trigliserida. Trigliserida adalah ester gliserol, suatu alkohol trihidrat dan asam lemak yang tepatnya disebut triasilgliserol. Bila ketiga asam lemak di dalam trigliserida adalah asam lemak yang sama dinamakan trigliserida sederhana; bila berbeda dinamakan trigliserida campuran. Bila hanya satu asam lemak bergabung dengan gliserol, maka lemak tersebut dinamakan monogliserida dan bila dua, digliserida. Fungsinya sebagai sumber energi,sumber asam lemak esensial alat angkut vitamin larut lemak, menghemat protein, memberi rasa kenyang dan kelezatan, sebagai pelumas, memelihara suhu tubuh, pelindung organ tubuh 
2)    Ester asam lemak dengan alkohol berberat molekul tinggi
a.    Malam
b.    Ester sterol
c.    Ester nonsterol
d.    Ester vitamin A dan ester vitamin D

B. Lipida Majemuk
1. Fosfolipida
    Fosfolipida terdapat dalam tiap sel hidup,dibentuk di dalam hati dan menempati urutan ke-2 kandungan lipida dalam tubuh. Fosfolipida merupakan trigliserida di mana asam lemak pada posisi karbon ketiga ditempati oleh gugus fosfat dan gugs basa mengandung nitrogen.
2. Lipoprotein
    Lipoprotein merupakan gabungan molekul lipida dan protein yag disintesis di dalam hati. Seperempat sampai sepertiga bagian dari lipoprotein adalah protein dan selebihnya lipida. Lipoprotein mempunyai fungsi mengangkut lipida di dalam plasma ke jaringan-jaringan yang membutuhkannya sebagai sumber energi, sebagai komponen membran sel atau sebagai prekursor metabolik aktif.
C. Lipida Turunan
1. Asam lemak
2. Sterol:
a.    Kolestrol dan ergosterol
b.    Hormon steroida
c.    Vitamin D
d.    Garam empedu
3. Lain-lain:
a.    Karotenoid vitamin A
b.    Vitamin E
c.    Vitamin K

2.4.2    ABSORPSI DAN TRANSPORTASI
    Absorpsi lipida terutama, terjadi dalam jejunum. Hasil pencernaan lipda di absorpsi ke dalam membran mukosa usus halus dengan cara difusi pasif. Perbedaan konsetrasi diperoleh dengan cara: (1). Kehadiran protein pengikat asam lemak yang segera mengikat asam lemak yang memasuki sel (2). esterifikasi kembali asam lemak menjadi monogliserida,yaitu produk utama pencernaan yang melintasi mukosa usus halus.Sebelum diabsorpsi kolestrol mengalami esterifikasi kembali yang dikatalisis oleh asetil –Koenzim A dan kolestrol asetil transferase. Pembentukan enzim-enzim ini dipengaruhi oleh konsentrasi tinggi kolestrol makanan. Sebagian besar hasil pencernaan lemak berupa monogliserida dan asam lemak rantai panjang (C12 atau lebih) di dalam membrane mukosa usus diubah kembali menjadi trigliserida.
    Asam lemak rantai pendek (C4-C6) dan rantai sedang (C8-C10) diabsorpsi langsung ke dalam vena porta dan dibawa ke hati untuk segera di oksidasi. Oleh karena itu, asam-asam lemak ini tidak mempengaruhi kadar lipida plasma dan tidak disimpan di dalam jaringan adipose dalam jumlah berarti.
    Trigliserida dan lipida besar lainnya (kolestrol dan fosfolida) yang terbentuk di dalam usus halus dikemas untuk diabsorpsi secara aktif dan ditransporasi oleh darah. Bahan-bahan ini bergabung dengan protein-protein khusus dan membentuk alat angkut lipida yang dinamakan lipoprotein. Tubuh membentuk 4 jenis lipoprotein, yaitu kilomikron, Low Density Lipoprotein (LDL),Very Low Density Lipoprotein (VLDL) dan High Density Lipoprotein (HDL).Tiap jenis lipoprotein berbeda dalam ukuran dan densitas dan mengangkut berbagai jenis lipida dalam jumlah yang berbeda.
Lipoprotein yang mengangkut lipida dari saluran cerna ke dalam tubuh dinamakan kilomikron.Kilomikron diabsorpsi melalui dinding usus halus ke dalam sistem limfe untuk kemudian melalui ductus thoracicus di sepanjang tulang belakang masuk ke dalam vena besar di tengkuk dan seterusnya masuk ke dalam aliran darah.
Kilomikron adalah lipoprotein paling besar dan mempunyai densitas paling rendah. Kilomikron mengangkut lipida berasal makanan dari saluran cerna ke seluruh tubuh.Lipida yang diangkut terutama trigliserida. Kilomikron merupakan tetesan bear lipida berupa trigliserida, kolestrol dan fosfolipida dengan sedikit protein (terutama berupa apolipoprotein A dan B) yang membentuk selaput pada permukaannya. Selaput disekeliling kilomikron ini memungkinkan lipida di dalamnya mengambang secara bebas di dalam aliran darah yang sebagian besar terdiri atas air.
Kilomikron pada dasarnya mengemulsi lemak sebelum masuk ke dalam aliran darah. Proses ini menyerupai kegiatan lesitin dan asam lemak dalam usus halus dalam upaya mengemulsi lemak makanan selama pencernaan. Perbedaannya adalah bahwa dalam pencernaan yang mengelilingi tetesan lemak adalah air, sedangkan pada kilomikron, lemak dikelilingi oleh protein, kolesterol, dan fosfolipida. Dalam aliran darah trigliserida yang ada pada kilomikron dipecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas oleh enzim lipoprotein lipase yang berada pada sel-sel endotel kapiler.
Sebagian besar asam lemak yang terbentuk di dalam tubuh diabsorpsi oleh sel-sel otot, lemak, dan sel-sel lain. Asam lemak ini dapat langsung digunakan sebagai zat energi atau diubah kembali menjadi trigliserida. Sel-sel otot cenderung menggunakannya sebagai zat energi, sedangkan lemak menyimpannya sebagai trigliserida. Bila sebagian besar trigliserida telah dipisahkan dari kilomikron,sisanya yang sebagian besarnya terdiri atas kolesterol dan protein dibawa ke hati dan mengalami metabolisme. Sementara itu hati mensintetis trigliserida dan kolesterol dari kelebihan protein dan karbohidrat yang ada. Hati merupakan alat memproduksi lipida (lipogenik) utama di dalam tubuh. Sel-sel lemak tidak membuat lemak tetapi hanya menyimpan lemak.
Very Low Density Lipoprotein (VLDL). Di dalam hati lipida dipersiapkan menjadi lipoprotein sehingga dapat diangkut melalui aliran darah. Lipoprotein yang dibentuk dalam hati ini adalah VLDL, yaitu lipoprotein dengan densitas sangat rendah yang terutama terdiri atas trigliserida.
Bila VLDL meninggalkan hati, lipoprotein lipase kembali bekerja dengan memecah trigliserida yang ada pada VLDL. VLDL kemudian mengikat kolesterol yang ada pada lipoprotein lain dalam sirkulasi darah. Dengan berkurangnya trigliserida,  VLDL bertambah berat dan menjadi LDL ( Low Density Lipoprotein), yaitu lipoprotein dengan densitas rendah.
LDL yang terutama terdiri atas kolesterol bersirkulasi dalam tubuh dan dibawa ke sel-sel otot, lemak, dan sel-sel lain. Trigliserida akan diperlakukan sama dengan yang terjadi pada kilomikron dan VLDL. Kolesterol dan fosfolipida akan digunakan untuk membuat membran sel, hormon-hormon atau ikatan lain, atau disimpan. Reseptor LDL yang ada di dalam hati akan mengeluarkan LDL dari sirkulasi.
Pembentukan LDL oleh reseptor LDL ini penting dalam pengontrolan kolesterol darah. Di samping itu dalam pembuluh darah terdapat sel-sel perusak yang dapat merusak LDL. Melalui jalur sel-sel perusak ini ( scavenger pathway) molekul LDL dioksidasi, sehingga dapat masuk kembali ke dalam aliran darah. Kolesterol yang banyak terdapat dalam LDL akan menumpuk dalam sel-sel perusak. Bila hal ini terjadi selama bertahun-tahun , kolesterol akan menupuk pada dinding pembuluh darah dan membentuk plak. Plak akan bercampur dengan protein dan ditutupi oleh sel-sel otot dan kalsium. Hal inilah yang kemudian dapat berkembang menjadi aterosklerosis. Pengatur utama kadar kolesterol darah adalah hati, karena sebagia besar (50-75%) reseptor LDL terdapat di dalam hati.
High Density Lipoprotein (HDL). Bila sel-sel lemak membebaskan gliserol dan asam lemak, kemungkinan kolesterol dan fosfolipida akan dikembalikan pula ke dalam aliran darah. Hati dan usus halus akan memproduksi HDL  (lipoprotein dengan densitas tinggi) yang masuk ke aliran darah. HDL menyerahkan kolesterol dan fosfolipida yang ada di dalam aliran darah. HDL menyerahkan kolesterol ke lipoprotein lain untuk diangkut kembali ke hati guna diedarkan kembali atau dikeluarkan dari tubuh.
Nilai LDL dan HDL mempunyai implikasi terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Nilai LDL yang tinggi dikaitkan dengan resiko tinggi terhadap serangan jantung. Sebaliknya HDL tinggi dikaitkan dengan resiko rendah. Oleh sebab itu, LDL dikatakan juga sebagai “kolesterol jahat”, sedangkan HDL “kolesterol baik”.
Bagian dalam lipoprotein terdiri atas trigliserida dan kolesterol yang diselubungi fosfolipida. Protein berada di dekat ujung luar fosfolipida menutupi struktur lipoprotein. Penyusunan molekul yang bersifat hidrofobik di bagian dalam dan molekul hidrofilik di bagian luar luar memungkinkan lipida diangkut melalui cairan darah.

2.4.3    Metabolisme Lipida
Lipid yang diperoleh sebagai sumber energi utamanya adalah dari lipid netral, yaitu trigliserida (ester antara gliserol dengan 3 asam lemak). Secara ringkas, hasil dari pencernaan lipid adalah asam lemak dan gliserol, Selain itu ada juga yang masih berupa monogliserida. Karena larut dalam air, gliserol masuk sirkulasi portal (vena porta) menuju hati. Asam-asam lemak rantai pendek juga dapat melalui jalur ini.
Sebagian besar asam lemak dan monogliserida karena tidak larut dalam air, maka diangkut oleh miselus (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan ke dalam sel epitel usus (enterosit). Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserida segera dibentuk menjadi trigliserida (lipid) dan berkumpul berbentuk gelembung yang disebut kilomikron. Selanjutnya kilomikron ditransportasikan melalui pembuluh limfe dan bermuara pada vena kava, sehingga bersatu dengan sirkulasi darah. Kilomikron ini kemudian ditransportasikan menuju hati dan jaringan adiposa.
Di dalam sel-sel hati dan jaringan adiposa, kilomikron segera dipecah menjadi asam-asam lemak dan gliserol. Selanjutnya asam-asam lemak dan gliserol tersebut, dibentuk kembali menjadi simpanan trigliserida. Proses pembentukan trigliserida ini dinamakan esterifikasi.
    Simpanan lemak: Simpanan lemak dalam tubuh terutama dilakukan di dalam sel lemak dalam jaringan adipos. Sel-sel adipos mempunyai enzim khusus pada permukaannya, yaitu lipoprotein lipase (LPL) yang dapat melepas trigliserida dan lipoprotein, menghidrolisisnya dan meneruskan hasil hidrolisis kedalam sel. Didalam sel terdapat enzim lain yang merakit kembali bahan-bahan hasil hidrolis menjadi trigliserida untuk disimpan sebagai cadangan energi. Sel-sel adipos menyimpan lemak setelah makan bilamana kilomikron dan VLDL yang mengandung lemak melewati sel-sel tersebut.
Penggunaan lemak untuk energi: Bila sel membutuhkan energi, enzim lipase dalam sel adipos menghidrolisis simpanan trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak serta melepasnya kedalam pembuluh darah. Di sel-sel yang membutuhkan, komponen-komponen ini kemudian di bakar dan menghasilkan energi, CO2 dan H2O. Pada tahap akhir hidrolisis, setiap pecahan berasal dari lemak mengikat pecahan berasal dari glukosa sebelum akhirnya dioksidasi secara komplit menjadi CO2 dan H2O. Proses pemecahan lemak jaringan ini dinamakan lipolisis. Asam lemak tersebut ditransportasikan  oleh albumin ke jaringan yang memerlukan dan disebut sebagai asam lemak bebas (Free Fatty Acid/FFA).
 Lemak tubuh tidak dapat dihidrolisis secara sempurna tanpa kehadiran karbohidrat. Tanpa karbohidrat akan diperoleh hasil antara pembakaran lemak berupa bahan-bahan keton yang dapat menimbulkan ketosis.
Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA. Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil KoA dari jalur ini pun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di sisi lain, jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis menjadi asam lemak dan selanjutnya asam lemak mengalami esterifikasi yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan energi jangka panjang.
Tubuh mempunyai kapasitas tak terhingga untuk menyimpan lemak. Namun, lemak tidak sepenuhnya dapat menggantikan karbohidrat sebagai sumber energi. Otak,sistem saraf dan sel darah merah membutuhkan glukosa sebagai sumber energi.
Beberapa lipid non gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami kolesterogenesis menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis membentuk steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi menghasilkan badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton). Proses ini dinamakan ketogenesis. Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan keseimbangan asam-basa yang dinamakan asidosis metabolik. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian.



Gambar : Metabolisme Lipid

2.5    METABOLISME PROTEIN

Pencernaan protein dilanjutkan didalam usus halus oleh campuran enzim protease.pankreas mengeluarkan cairan yang bersifat sedikit basa dan mengandung berbagai precursor protease, seperti tripsinogen, kimotripsinogen, prokarboksipeptidase dan proelastase. Enzim-enzim ini menghidrolisis ikatan peptide. Sentuhan kimus terhadap mukosa usus halus merangsang dikeluarkannya enzim enterokinase yang merubah tripsinogen tidak aktif yang berasal dari pancreas menjadi tripsin aktif. Perubahan ini juga dilakukan oleh tripsin sendiri secara oto katalitik. Disamping itu tripsin dapat mengaktifkan enzim-enzim proteolitik lain berasal dari pancreas. Kimotripsinogen  diubah menjadi  kimotripsin aktif prokarboksipeptidase dan proelastase diubah menjadi karboksipeptidase dan elastase aktif. Enzim-enzim pancreas ini memecah protein dari polipeptida menjadi peptide lebih pendek, yaitu tripeptida, dipeptida dan sebagian menjadi asam amino.mukosa usus halus juga mengeluarkan enzim-enzim protease yang menghidrolisis ikatan peptide. Sebagian besar enzim mukosa usus halus ini bekerja didalam sel.
Hidrolisis produk-produk lebih kecil hasil pencernaan protein dapat terjadi setelah memasuki sel-sel mukosa atau pada saat diangkut melalui dinding epitel .mukosa usus halus  mengeluarkan enzim amino peptidase yang memecah polipeptida menjadi asam amino bebas.Enzim ini membutuhkan mineral Mn++ atau Mg++ untuk pekerjaannya.
Enzim-enzim proteolitik yang ada dalam lambung dan usus halus pada akhirnya dapat mencernakan sebagian protein menjadi asam amino bebas.Tripsin dan kimotripsin dapat lebih cepat dan sempurna bekerja bila didahului oleh tindakan pepsin.Tetapi,kedua jenis enzim ini tanpa didahului oleh pepsin dapat juga membebaskan asam amino dari protein.
Absorpsi dan transportasi
Hasil akhir pencernaan protein terutama berupa asam amino dan ini segera diabsorpsi dalam waktu lima belas menit setelah makan. Absorpsi terutama terjadi dalam usus halus berupa empat system absorpsi aktif yang membutuhkan energy yaitu masing-masing untuk asam amino netral,asam amino dan basa,serta untuk prolin dan hidroksiprolin .Absorpsi ini menggunakan  mekanisme transport  natrium seperti halnya pada absorpsi glukosa.Asam amino yang diabsorpsi memasuki sirkulasi darah melalui vena porta dan dibawah kehati.Sebagian  asam  amino digunakan oleh hati,dan sebagian lagi melalui sirkulasi darah dibawa ke sel-sel jaringan .Kadang-kadang protein yang belum dicerna dapat memasuki mukosa usus halus dan muncul dalam darah.Hal ini sering terjadi pada protein susu dan protein telur yang dapat menimbulkan gejala alergi (immunological sensitive protein). Sebagian besar asam amino telah diabsorpsi pada saat asam amino sampai diujung usus halus. Hanya 1% protein yang dimakan ditemukan dalam feses.Protein endogen yang berasal darib sekresi saluran cerna dan sel-sel yang rusak juga dicerna dan diabsorpsi.
Penguraian Protein dalam tubuh
Asam amino yang dibuat dalam hati, maupun yang dihasilkan dalam metabolisme protein dalam hati, dibawa oleh darah kedalam jaringan untuk digunakan. Proses anabolik dan katabolik juga terjadi didalam jaringan diluar hati. Asam amino yang terdapat dalam darah berasal dari 3 sumber, yaitu absorbsi melalui dinding usus, hasil penguraian protein dalam seldan hasil sintesis asam amino dalam sel. Banyaknya asam amino dalam darah tergantung keseimbangan antara pembentukan asam amino dan penggunaannya. Hati berfungsi sebagai pengatur konsentradsi asam amino dalam darah.
Dalam tubuh kita protein mengalami perubahan-perubahan tertentu dengan kecepatan yang berbeda untuk tiap protein. Protein dalam darah, hati dan organ tubuh lainnya mempunyai waktu paruh antara 2,5 sampai 10 hari. Protein yang terdapat pada jaringan otot mempunyai t1/2 = 120 hari. Rata-rata tiap hari 1,2 gram protein perkilogram berat badan diubah menjadi senyawa lain. Ada 3 kemungkinan mekanisme pengubahan protein yaitu :
1.    Sel-sel mati lalu komponennya mengalami proses penguraian atau katabolisme dan dibentuk sel-sel baru.
2.    Masing-masing protein mengalami proses penguraian dan terjadi sintesis protein baru, tanpa ada sel yang mati.
3.    Protein dikeluarkan dari dalam sel diganti dengan sintesis protein baru.
Metabolisme protein dimulai setelah protein dipecah menjadi asam amino.Asam amino akan memasuki siklus TCA bila dibutuhkan sebagai sumber energy atau bila berada dalam jumlah berlebih dari yang dibutuhkan untuk sintesis protein .Mula-mula asam amino akan mengalami deaminase, yaitu melepas gugus amino. Proses ini mebutuhkan vitamin B6 dalam bentuk PLP Asam amino kemudian dikatabolisme melalui 3 cara .Kira-kira separuh dari asm amino yaitu alanin, serin, glisin, sistein, metionin dan tritofan diubah menjadi piruvat.Kurang lebih separuh lagi yaitu fenilalanin, tirosin, leusin, isoleusin dan lisin, seperti halnya asam lemak diubah menjadi asetil KoA. Sisa Asam amino kecuali asam aspartat diubah menjadi asam glutamat , dideaminase dan langsung memasuki siklus TCA. Asam amino diubah menjadi piruvat dapat diubah menjadi glukosa. Oleh karena itu,dinamakan asam amino glukogenik.Asam amino yang diubah mejadi asetil KoA dapat digunakan untuk memperoleh energy atau dapat diubah menjadi asetil KoA dapat digunakan untuk memperoleh energy  atau dapat diubah menjadi lemak .Asam amino  ini dinamakan ketogenik .Asam amino yang langsung masuk kedalam siklus TCA juga merupakan asam amino glugekonik ,karena dapat menghasilkan energy atau keluar dari siklus dan diubah menjadi glukosa.Berbeda dengan lemak,protein merupakan sumber glukosa bila karbohidrat tidak mencukupi .seperti halnya lemak dan karbohidrat ,bila berlebihan asam amino akan diubah menjadi lemak. jadi protein dalam jumlah berlebihan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh, dapat diubah menjadi lemak tubuh dan menyebabkan kegemukan
  
2.5.1    Penggunaan protein untuk membentuk protein atau asam amino tidak esensial
Bila sel membutuhkan protein tertentu ,sel tersebut akan membentuknya dari asam amino yang tersedia .Bila sel membutuhkan asam amino tidak esensial tertentu untuk pembentukan protein,sel akan membuatnya dengan cara memecah asam amino lain yang tersedia dan menggabungkan gugus aminonya  dengan unit-unit karbon-karbon fragmen yang berasal dari glukosa.

2.5.2    Penggunaan  Asam amino untuk membentuk ikatan-ikatan lain
Sel juga dapat membentuk ikatan-ikatan lain dari asam amino.Misalnya asam amino tiroain merupakan precursor pengantar saraf norepinefrin dan epinefrin yang mengantrkan pesan-pesan saraf keseluruh tubuh.Tirosin juga dapat diubah menjadi melanin,yaitu pigmen tubuh,atau menjadi tiroksin ,hormone yang mengatur laju metabolism.Triptofan merupakan precursor pengantar saraf serotonin dan vitamin niasin

2.5.3    Penggunaan Asam amino sebagai energy
Walaupun fungsi utama protein adalah untuk pertumbuhan,bilamana tubuh kekurangan zat energy fungsi protein untuk menghasilkan energy atau untuk membentuk glukosa akan didahulukan.Bila glukosa atau asam lemak didalam tubuh terbatas,sel terpaksa menggunakan protein untuk membentuk glukosa dan energy.Glukosa dibutuhkan sebagai sumber energy sel-sel otak dan system saraf.Pemecahan protein tubuh guna memenuhi kebutuhan energy sel-sel otak  dan system saraf .pemecahan protein tubuh guna memenuhi kebutuhan energy dan glukosa pada akhirnya akan menyebabkan melemahnya otot-otot.Oleh karena itu ,dibutuhkan  konsumsi karbohidrat dan lemak yang cukup tiap hari sehinnga potein dapat digunakan sesuai fungsi utamanya,yaitu untuk pembentukan sel-sel tubuh.Kelebihan asam amino dalam tubuh,setelah terlebih dahulu melepas gugus NH2 nya melalui proses deaminasi,akan memasuki jalur metabolism yang sama dengan yang digunakan oleh karbohidrat dan lipida.

2.5.4    Persediaan Metabolik Asam amino
Didalam tubuh tidak ada persediaan besar asam amino .Kelebihan asam amino untuk keperluan sintesis protein dan berbagai  ikatan nitrogen bukan ikatan ikatan protein akan dimetabolisme .Akan tetapi didalam protein sel-sel ada persediaan metabolic asam amino yang berada dalam keseimbangan dinamis yang dapat setiap waktu digunakan.Perubahan protein secara terus-menerus pada orang dewasa diperlukan untuk memelihara persediaan asam amino untuk memenuhi kebutuhan segera asam amino oleh berbagai sel dan jaringan guna pembentukan protein .Jaringan yang paling aktif dalam perubahan protein adalah protein plasma ,mukosa saluran cerna ,pancreas ,hati dan ginjal .jaringan otot dan kulit biasanya tidak terlalu aktif.  

2.6    SIKLUS ASAM SITRAT MENGHASILKAN SUBSTRAT UNTUK RANTAI RESPIRATORIK
Siklus diawali dengan reaksi antara gugus asetil pada asetil-KoA dan asam dikarboksilat empat-karbon oksaloasetat yang membentuk asam trikarboksilat enam-karbon ,yaitu sitrat.Padareaksi –reaksi berikutnya ,terjadi pembebasn dua molekul CO2 dan pembentukan ulang oksaloasetat.Hanya sejumlah kecil oksaloasetat yang dibutuhkan untuk mengoksidasi asetil-KoA dalam jumlah besar,senyawa ini dapat dianggap memiliki peran katalitik.
Siklus asam sitrat adalah bagian integral dari proses penyediaan energi dalam jumlah besar yang dibebaskan selama oksidasi bahan bakar terjadi.Selama oksidasi asetil-KoA ,koenzim-koenzim mengalami reduksi dan kemudiam direoksidasi dirantai respiratorik yang dikaitkan dengan pembentukan ATP(fosforilasi oksidatif).Proses ini bersifat aerob yang memerlukan oksigen sebagai oksidan terakhir dari koenzim-koenzim yang tereduksi.Enzim-enzim pada siklus asam sitrat terletak di matriks mitokondria ,baik bebas maupun terikat pada membran dalam mitokondria serta membran krista,tempat enzim-enzim rantai respiratorik berada.
2.6.1    REAKSI SIKLUS ASAM SITRAT MEMBEBASKAN EKUIVALEN PEREDUKSI & CO2
Reaksi awal antara asetil-KoA dan oksaloasetat untuk membentuk sitrat dikatalis oleh sitrat sintase yang membentuk ikatan karbon –ke –karbon antara karbon metil pada asetil KoA dan karbon karbonil pada oksaloasetat.ikatan tioester pada sitril-KoA yang terbentuk mengalami hidrolisis dan membebaskan sitrat dan KoASH –suatu reaksi eksotermik.
Sitrat mengalami isomerisasi menjadi isositrat oleh enzim akonitase(akonitat hidratase);reaksi ini terjadi dalam dua tahap:dehidrasi menjadi cis-akonitat dan rehidrasi menjadi isositrat.Meskipun sitrat adalah suatu molekul sistematis,namun akonitase bereaksi dengan sitratsecara asimetris sehingga dua atom karbon yang lenyap dalam reaksi-reaksi berikutnya pada siklus bukanlah atom karbon yang ditambahkan dari asetil-KoA.Perilaku asimetris terjadi karena channelling-pemindahan produk sitrat sintase secara langsung kebagian aktif akonitase,tanpa memasuki larutan bebas.Hal ini menghasilkan integrasi aktivitas siklus asam sitrat dan penyediaan sitrat disitosol sebagai sumber asetil-KoA untuk sintesis asam lemak.racunfluoroasetat bersifat toksik karena fluoroasetil –KoA berkondensasi dengan aksaloasetat untuk membentuk fluorositrat,yang enghambat akonitase sehingga terjadi penimbunan sitrat.
Isositrat mengalami dehidrogenasi yang dikatalis oleh isositrat dehidrogenase untuk membentuk,oksalosuksinat pada awalnya,yang tetap terikat pada enzim dan mengalami dekarboksilasi menjadi α-ketoglutarat.Dekarboksilasi ini memerlukan ion Mg++ atau Mn ++.Terdapattiga isoenzim isositrat dehidrogenase.Salah satunya yang menggunakan NAD+,hanya terdapatdi mitokondria.Dua lainnya menggunakan NADP+ dan ditemukan di mitokondria dan sitosol.Oksidasi isositrat terkait-rantai respiratorik berlangsung hampir sempurna melalui enzim yang dpenden –NAD+. Α-Ketoglutarat mengalami dekarboksilasi oksidatif dalam suatu reaksi yang dikatalis oleh suatu komplek multi-enzim yang mirip dengan kompleks multienzim yang berperan dalam dekarboksilasi oksidatif pirupat.kompleks α-ketoglutarat dehidrogenase memerlukan kofaktor yang sama dengan kofaktor yang diperlukan kompleks piruvat dehidrogenase-timin difosfat,lipoat,NAD+,FAD,KoA-serta menyebabkan terbentuknya suksinil KoA.Kesetimbangan reaksi ini jauh lebih menguntungkan pembentukan suksinil KoA sehingga secara fisiologs reaksi ini harus dianggap berjalan satu arah.Seperrti halnya oksidasi piruvat,arsenil menghambat reaksi ini yang menyebabkan akumulasi substrat yaitu α-ketoglutarat.
Suksinil –KoA diubah menjadi suksinal oleh enzim suksinat tiokinase(suksinil-KoA sintase).Reaksi ini adalah satu-satunya contoh fosforilasi tingkat substrat dalam siklus asam sitrat.Jaringan tempat terjadinya glukoneogenesis(hati dan ginjal)mengandung dua isoenzim suksinat tiokinase,satu spesifik untuk GDP dan yang lain untuk ADP.GTP yang terbentuk digunakan untuk dekarboksilasi oksaloasetat menjadi fosfoenolpiruvatdalam glukoneogenesis,dan menghasilkan hubungan regulatorik antara aktivitas siklus asam sitrat dan penghentian oksaloasetat untuk glukoneogenesis.Jaringan non-glukoneogenik hanya memiliki isoenzim yang mengandung ADP.

Gambar 17-2. Siklus asam sitrat: jalur kata bolik utama untuk asetil-KoA, produk katabolisme karbohidrat, protein, dan lipid, dibawa kesiklus asam sitrat dan dioksidasi menjadi co2 disertai pembahasan ekuivalen produksi (2H). Oksidasi 2H selanjutnya dirantai respiratorik menyebabkan fosforilasi ADP menjadi ATP. Untuk satu putaran siklus, dihasilkan 11 ATP melaui fosforilasi oksidatif dan 1 ATP di hasilkan ditingkat substrat dari perubahan suksinil-KoA menjadi suksinat.
Jika metabolisme badan keton terjadi dijaringan ekstrahepatik ,terdapat suatu reaksi alternatif yang dikatalis oleh suksinil-KoA transferase(tioforase)yang melibatkan pemindahanKoA dari satu suksinil-KoA ke asetoasetat,dan membentuk saseoasetil-KoA.

Gambar 17-3. Siklus asam sitrat (krebs). Oksidasi NADH dan FADH2 dalam ranati respiratorik menyebabkan terbentuknya ATP melalui fosforilasi oksidatif. Untuk mengikuti perjalanan asetil-KoA melintasi siklus, dua atom karbon pada radikal asetil diperlihatkan berlabel pada karbon karboksil (*) dan pada karbon metil (.). meskipun dua atom karbon lennyap sebagai CO2 dalam satu putaran siklus, namun atom-atom ini tidak berasal dari asetil-KoA yang baru memasuki siklus, tetapi berasal dari bagian molekul sitrat yang berasal dari oksaloesetat. Namun, setelah satu putaran siklus selesai, oksaloesetat yang terbentuk kembali kini berlabel sehingga pada putaran kedua siklus CO2 menjadi berlabel. Karena suksinat adalah suatu senyawa simetris, pada tahap ini terjadi “pengacakan” lebel sehingga keempat atom karbon oksaloasetat tampaknya terlebel setelah satu putaran siklus. Selama glukoneogenesis, sebagian lebel di oksaloasetat terserap kedalam glukosa dan glikogen. Tampak tempat-tempat inhibisi oleh fluoroasetat, malonat, dan arsenit.
Metabolisme suksinat yang menyebabkan terbentuknya oksaloasetat,memiliki rangkaian kimia yang sama seperti yang terjadi pada oksidasi-β asam lemak :dehidrogenasi untuk membentuk ikatan rangkap karbon-ke-karbon ,penambahan air untuk membentuk gugus hidroksil,dan dehidrogenasi lebih lanjut untuk menghasilkan gugus okso pada oksaloasetat.
Reaksi dehidrogenasi pertama yang membentuk fumarat dikatalis oleh suksinat dehidrogenase yang terikat pada permukaan dalam membran dalam mitokondria.Enzim ini mengandung FAD dan protein besi-sulfur(Fe:S),dan secara langsung mereduksi ubikuinon dalam rantai transpor elektron.Funarase (fumarat hidrase) mengkatalis penambahan aiar pada ikatan rangkap fumarat sehingga menghasilkan malat.Malat diubah menjadi oksaloasetat oleh malat dehidrogenase,suatu reaksi yang memerlukan NAD+. Meskipun keseimbangan reaksi ini jauh menguntungkan malat,namun aliran netto reaksi tersebut adalah ke oksaloasetat karena oksaloasetat harus dikeluarkan (untuk membentuk sitrat,sebagai substrat glukoneogenesis,atau mengalami transminasi menjadi aspartat)serta reoksidasi NADH terjadi secara kontinu.
2.6.2    SATU PUTARAN SIKLUS ASAM SITRAT MENGHASILKAN DUA BELAS ATP
    Akibat oksidasi yang dikatalisis berbagai dehidrogenase pada siklus asam sitrat, dihasil kan tiga molekul NADH dan satu FADH2 untuk setiap molekul asetil-KoA yang dikatabolisme per satu kali putaran siklus. Ekuivalen pereduksi ini dipindahkan kerantai respiratorik (lihat gambar 13-3), tempat reoksidasi masing masing NADH menghasilkan fosforilasi tingkat-substrat yang dikatalisis oleh suksinat tiokinase.

2.6.3    VITAMIN BERPERAN PENTING DALAM SIKLUS ASAM SITRAT
    Empat vitamin B merupakan faktor esensial dalam siklus asam sitrat sehingga juga penting dalam metabolisme penghasil energi:
1.    Riboflavin, dalam bentuk flavin adenin dinukleotida (FAD), suatu kofaktor untuk suksinat dehidrogenase
2.    Niasin, dalam bentuk nikotinamid adenin dinukleotida (NAD), akseptor elektron untuk isositrat dehidrogenase, alpha-ketoglutarat dehidrogenase, dan malat dehidrogenase
3.    Tiamin (vitamin B1), sebagai tiamin difosfat, koenzim untuk dekarboksilasi dalam reaksi alpha-ketoglutaratdehidrogenase
4.    Asam pantotenat, sebagai bagian dari koenzim A, faktor yang melekat pada residu asam karboksilat “aktif”, misalnya asetil-KoA dan suksinil-KoA.



2.6.4    SIKLUS ASAM SITRAT BERPERAN PENTING DALAM METABOLISME
    Siklus asam sitrat tidakm saja merupakan jalur untuk oksidasi  unit dengan dua-karbon,tetapi juga merupakan jalur utama untuk pertukaran berbagai metabolik yanng berasal dari transaminasi  dan deaminasi asam amino,serta menghasilkan substrat untuk sintesis asam amino melalui transaminasi,serta untuk gluko

neogenesis dan sintesis asam lemak.Karena fujngsinya dalam proses oksidatif dan sintesis,siklus ini bersifat amfibolik ( gambar 17-4).
2.6.5    SILKUS ASAM SITRAT IKUT SERTA DALAM GLUKONEOGENESIS,TRANSAMINASI,DAN DEAMINASI
     Semua zat antara pada siklus berpotensi glukogenic karena dapat menghasilkan oksaloasetat,dan karenanya mampu mjenghasilkan glukosa (dihati dan ginjal,organ yang melaksanakan glukoneogenesis). Enzim kunci yang mengatalisis pemindahan netto keluar siklus untuk menuju glukoneogenesis adalah fosfoenolpiruvat karboksikinase yang mengatalisis dekarboksilasi oksaloasetat menjadi fosfoenolpiruvat dengan GTP yang berkerja sebagai donor fosfat.
    Pemindahan netto kedalam siklus terjadi melalui beberapa reaksi. Diantara berbagai reaksi anaplerotik tersebut,yang terpaenting badalah pembentukan oksaloasetat melalui karbiksilasi piruvat  yang dikatalisis oleh piruvat karbksilase. Reaksi ini penting dalam mempertahanka konsentrasi oksaloasetat yangn memadai untuk reaksi kondensasin  dengan  asetil-KoA. Jika terjadi penimbuinan asetil-KoA,zat ini alkan berfungsi sebagai aktivator allosterik piruvat karboksilase dan inhibvitor piruvat dehidrogenase,sehinngga pasokan oksaloasetat terjamin. Laktat,suatu substrat penting untuk gluikoneogenesis, memaasuki siklus melalui oksidasi menjadi piruvat dan kemudian menggalami karboksilasi menjasdi oksaloasetat.
    Reaksi-reaksi ini aminotransperase (transaminase) membentuk piruvat dari alanin,oksaloasetat dari aspartat,dan alfa-ketoglutarat dari glutamat. Karena reaksi-reaksi ini bersifat reversibel,siklkus asam sitrat juga berfungsi sebagai sumber rangka karbon untuk membebtuik asam-asam amino ini. Asam2 amino  lain berperan dalam glukoneogenesis karena ranngka karbonnya menghasilakan zat2 antara siklus asam sitrat. Alanin, glisin, hidroksiprolin, serin , treonin, dan triptofan menghasilkan piruvat arginin,

Gambar : keterlibatan siklus asam sitrat dalam transaminasi dan glukoneogenesis. Tanda panah tebal menunjukan jalur utamaglukoneogenesis.
Histidin, glutamin, dan prolin menghasilkan alpha-ketoglutarat; isoleusin, metionin, dan valin menghasilkan suksinil-KoA; tirosin dan fenilalanin menghasilkan fumarat (lihat gambar 17-4).
    Pada hewan pemamah biak dengan bahan bakar metabolik utama berupa asam lemak rantai pendek yang dibentuk oleh fermentasi bakteri, perubahan propionat, produk glukogenik utama permentasi rumen, menjadi suksinil-KoA melalui jalur metilmalonil-KoA (gambar 20-2) sangat penting.
2.6.6    SIKLUS ASAM SITRAT IKUT SERTA DALAM SINTESIS ASAM LEMAK
    Asetil-KoA yang dibentuk dari piruvat oleh kerja piruvat dehidrogenase adalah substrat utama untuk sintesi asam lemak rantai-panjang pada hewan bukan pemamah biak (gambar 17-5). (pada hewan pemamah biak, asetil-KoA berasal langsung dari asetat). Piruvat dehidrogenase adalah suatu enzim mitokondria, dan sintesis asam lemak berlangsung di sitosol; membran mitokondia bersipat impermiabel terhadap aseti-KoA. Asetil-KoA disediakan di sitosoldari sitrat yang disentesis dimitokondria, dipindahkan kesitosol, dan dipecah dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh ATP-sitrat liase. Sitrat hanya tersedia untuk pengangkutan keluar mitokondria ketika akonitase mengalami saturasi oleh substratnya, dan sitrat tidak dapat disalurkan langsung dari sitrat sintase ke akonitase. Hal ini menjamin agar sitrat digunakan untuk sintesis asam lemak hanya jika jumahnya adekuat untuk menjamin kontinuitas aktivitas siklus.
2.6.7    REGULASI SIKLUS ASAM SITRAT BERGANTUNG TERUTAMA PADA PASOKAN KOFAKTOR TEROKSIDASI
    Di sebagian besar jaringan, dengan siklus asam sitrat yang berperan utama dalam metabolisme penghasil energi, aktivitas siklus asam sitrat diatur oleh kontrol respiratorik melalui rantai respiratorik dan fosforilasi oksidatif. Oleh sebab itu, aktivitas bergantung langsung pada pasokan
 
gambar 17-5. Peran serta siklus asam sitrat dalam sintesis asam lemak dari glukosa.
NAD+, yang selanjutnya, karena keterkaitan erat antara oksidasi dan fosforilasi, bergantung pada ketersediaan ADP dan pada akhirnya, bergantung pada kecepatan pemakaian ATP dalam reaksi kimia dan kerja fisik. Selain itu, masing-masing enzim dalam siklus tersebut juga diatur. Tempat pengaturan yang paling mungkin adalah reaksi tak-setimbang yang dikatalisi oleh piruvat dehidrogenase, sitrat sintase, isositrat dehidrogenase, dan alpha-ketoglutarat dehidrogenase. Berbagai dehidrogenase diaktifkan oleh Ca2+ yang meningakat konsentrasinya selama kontraksi otot dan sekresi, saat terjadi peningkatan kebutuhan energi. Di jaringan seperti otak, yang sangat bergantung pada karbohidrat untuk memperoleh asetil-KoA, kontrol siklus asam sitrat dapat terjadi di piruvat dehidrogenase. Beberapa enzim berenspons terhadaf status energi seperti diperhatikan oleh rasio [ATP]/ [ADP] dan [NADH]/[NAD+]. Oleh sebab itu, terjadi inhibisi alosterik sitrat sintase oleh ATP dan asil-KoA lemak rantai panjang. Aktivitas alosterik isositrat dehidrogenase dependen–NAD mitokondria oleh ADP  dilawan oleh ATP dan NADH. Kompleks alpha-ketoglutarat dehidrogenase diatur dengan cara yang sama seperti piruvat dehidrogenase(gambar 18-6). Suksianat dehidrogenase dihambat oleh oksaloasetat, dan ketersediaan oksaloasetat, seperti di kontrol oleh malat dehidrogenase, bergantung pada rasio[NADH]/[NAD+]. Karena K,,,, untuk oksaloesetat pada sitrat sintase serta dengan kosentrasi intramitokondria, kosentrasi oksaloasetat agaknya mengontrol laju pembentukan. Belum diketahui mekanisme mana dari berbagai mekanisme  tersebut yang penting bagi tunuh.





BAB 3
KESIMPULAN
    Proses yang terjadi pada tubuh laki-laki yang berolahraga teratur terjadi proses perubahan piruvat menjadi asetil KoA itu memasuki siklus krebs, sehingga tidajadi pembentk terkan asm lemak, sehingga proses metabolisme orang yang berolaharaga ini baik hingga tahap pembentkan energi.
    Sedangkan pada tubuh laki-laki B yang gemuk ini, hampir tidak pernah berolahraga, ini disebabkan proses perubahan piruvat menjadi asetil KoA, karena tidak membutuhkan energi maka asetil KoA ini tidak memasuki siklus krebs, tetapi digunakan untuk membentuk asam lemak, hal inilsh ysng menyebabkan penumpukan lemak pada si B sehingga ia menjadi gemuk.














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar