Minggu, 10 November 2013

Interaksi Obat

Tipe interaksi

Macam Interaksi Obat

1.Interaksi farmasetis
Adalah interaksi fisiko-kimia yang terjadi pada saat obat diformulasikan/disiapkan sebelum obat di gunakan oleh penderita.
Misalnya interaksi antara obat dan larutan infus IV yang dicampur bersamaan dapat menyebabkan pecahnya emulsi atau terjadi pengendapan.
Contoh lain : dua obat yang dicampur pada larutan yang sama dapat terjadi reaksi kimia atau terjadi pengendapan salah satu senyawa, atau terjadi pengkristalan salah satu senyawa dll.

Bentuk interaksi:
a.    Interaksi secara fisik
Misalnya :
-    Terjadi perubahan kelarutan
-    Terjadinya turun titik beku
b.    Interaksi secara khemis
Misalnya :
Terjadinya reaksi satu dengan yang lain atau terhidrolisisnya suatu obat selama dalam proses pembuatan ataupun selama dalam penyimpanan.

2.    Interaksi Farmakokinetika
Pada interaksi ini obat mengalami perubahan pada :
-Absorbsi
-Distribusi
-Metabolisme
-Ekskresi

Yang disebabkan karena obat/senyawa lain
Hal ini umumnya diukur dari perubahan pada satu atau lebih parameter farmakokinetika, seperti konsentrasi serum maksimum, luas area dibawah kurva, waktu, waktu paruh, jumlah total obat yang diekskresi melalui urine, dsb.

3.    Interaksi Farmakodinamika
Adalah obat yang menyebabkan perubahan pada respon pasien disebabkan karena berubahnya farmakokinetika dari obat tersebut karena obat lain yang terlihat sebagai perubahan aksi obat tanpa menglami perubahan konsentrasi plasma.
Misalnya naiknya toksisitas dari digoksin yang disebabkan karena pemberian secara bersamaan dengan diuretic boros kalium misalnya furosemid.
Kombinasi Obat

Pemilihan penggunaan kombinasi obat untuk terapi merupakan hal yang controversial

Harapan :
Terjadi peningkatan efek terapi obat
Misalnya pada Cotrimoksazol, amoxiclave.
Berkurangnya efek merugikan, misalnya pada kombinasi INH – Vit B6
Turunnya biaya kesehatan disebabkan karena potensi obat tinggi akibatnya lama sakit berkurang.

Kelemahan :
Rasio dosis tidak terkendali
Kemungkinan terjadi interaksi obat

Tugas farmasis adalah : Segera mendeteksi dan mengkoreksi adanya interaksi obat

Secara matematis bila ada 2 atau lebih obat dikombinasi maka kemungkinan terjadi interaksi adalah :

[ ½ n (n-1)] kali
dengan n = jumlah Obat


Obat-obat yang cenderung menyebabkan Interaksi Obat

1. Obat yang memiliki ikatan obat- protein yang tinggi.
Obat yang memiliki ikatan obat-protein tinggi cenderung dominan, akibatnya obat tersebut dapat mendesak obat lain yang terikat protein sehingga terbebaskan, akibatnya kadar obat bebas dalam darah meningkat dengan tajam, secara matematis dapat digambarkan pada table berikut :

Contoh obat : Aspirin, Fenilbutazon, Sulfanilamid, walfarin dll

2.Obat-obat yang menstimulasi atau menginhibisi metabolisme obat lain

Interaksi ini merugikan atau menguntungkan tergantung dari sifat obatnya masing-masing

-Obat aktif adalah metabolitnya
Misalnya :
Prednison Prednisolon
Procainamid N-Asetil Procainamid

Maka obat yang menstimulasi metabolisme akan menyebabkan meningkatnya kadar obat aktif dalam darah
-Obat aktif adalah obat aslinya
Misalnya :
Captoril, furosemid, methyldopa dll
Maka obat yang menstimulasi metabolisme akan menyebabkan menurunnya kadar obat aktif dalam darah.

Obat yg menstimulasi Contoh
Antikonvulsan(fenitoin, karbamazepin, fenobarbital); Rifampisin; griseofulvin

Obat yg menginhibisi contoh :
Allopurinol; kloramfenikol; cimetidine; metronidazol; INH; ciprofloksasin


3. Obat-obat yang mempengaruhi fungsi Renal

Obat-obat golongan ini dapat mengubah kliren ginjal obat lain, misalnya obat-obat diuretic.


Obat-obat yang cenderung menjadi objek interaksi obat

a.Obat-obat yang memiliki kurve dosis respon curam.
b.Obat-obat yang memiliki
rasio efek toksik : terapetik rendah

Interaksi Farmakokinetika

Interaksi ini terjadi ketika proses absorbsi, distribusi, metabolisme atau ekskresi suatu obat terpengaruh oleh adanya obat(senyawa)lain.

1.Interaksi absorbsi
Mekanisme yang dapat mengubah kecepatan absorbsi obat dalam GI tract dipengaruhi banyak factor antara lain, berubahnya: kecepatan aliran darah GI, motilitas GI, pH GI, kelarutan obat, Metabolisme GI, Flora GI, atau Mucosa GI, terbentuknya komplek yang tidak larut.
Contoh :
Penurunan motilitas Gastrointestinal, disebabkan karena obat-obat golongan morfin, dan obat-obat dengan efek antikolinergik misalnya antidepresan trisiklik.
Terbentuk chelat dari Ca, Al, Mg, garam besi oleh tetrasiklin.
Obat terjebak dalam makanan, contoh Ampisilin
 Obat diabsorbsi obat lain : Lincomycin dan kaolin-pektin, obat dgn karboadsorben.
Perubahan ion : cholestyramin-walfarin.


Peningkatan absorbsi digoksin atau penurunan absorbsi estrogen dalam kontrasepsi oral yang digunakan secara bersamaan dengan antibiotika


Efek interaksi ini jarang dimanfaatkan secara klinis

Ada 2 contoh penting dari pemanfaatan interaksi absorbsi, yaitu :

1. Metoclopamide dapat meningkatkan kecepatan pengosongan lambung, dan hal ini menyebabkan meningkatnya penyerapan analgesik pada pengobatan migrain akut,

. Adanya charcoal yang mengikat beberapa obat di usus, hal ini dapat mencegah penyerapan dan obat tersebut di reabsorbsi setelah ekskresi bilier atau sekresi intestinal.

Prinsip ini dipergunakan dalam perawatan keracunan yang disebabkan bahan-bahan golongan phenobarbiton dan antidepresan trisiklik.


Interaksi pendesakan ikatan obat-protein

Pendesakan ikatan obat-protein oleh obat lain dapat meningkatkan kadar obat bebas dalam darah, dan hal ini sangat potensial dalam peningkatan efek bahkan efek toksik dari suatu obat, terutama obat yang memiliki rasio
efek terapi dan efek toksik rendah.
Interaksi Distribusi Seluler

Rifampisin dapat mereduksi efek walfarin dengan cara menginhibisi up take dari hepatocytes, hal ini menyebabkan peningkatan metabolisme sehingga efek walfarin menurun.

Transport aktif dari beberapa obat anti hipertensi (bethanidine, Guenethidine, debricoquine) ke pangkal syaraf simpatik yang merupakan tempat terjadinya efek terapeutik, di inhibisi oleh antidepresan trisiklik (dan mungkin juga oleh beberapa phenothiazine) sehingga terjadi penurunan kontrol terhadap tekanan darah.

-metildopa.Mekanisme tersebut juga menjadi dasar dari interaksi antara antidepresan trisiklik dengan clonidine dan

Interaksi Metabolisme

Interaksi obat pada saat terjadi metabolisme dapat terjadi ketika metabolisme sebuah obat dihambat atau ditingkatkan oleh obat lain.

Biasanya reaksi ini berpengaruh pada cytocrom P450

Induksi Metabolisme obat
Obat-obat yang meningkatkan (menginduksi) metabolisme obat melalui peningkatan reticulum endoplasma di hepatocyte dan karena peningkatan kandungan Cyt P450 dan cyt c- reduktase.
Hal ini dapat meningkatkan ataupun menurunkan efek dari object drug
Contohnya :

Interaksi Digoksin-Furosemid

Efek terapeutik glikosida jantung pada fungsi mekanis adalah untuk meningkatkan intensitas filamen actin dan myosin dari sarkomer jantung
Peningkatan intensitas disebabkan oleh peningkatan konsentrasi kalsium bebas di dalam daerah sekitar protein kontraktil selama systole.
Peningkatan konsentrasi Natrium intraseluler :
Karena penghambatan Na/K ATP-ase (1)
Karena suatu penurunan relatif ekspulsi kalsium dari sel oleh exchanger natrium-kalsium (2) disebabkan oleh peningkatan natrium intraseluler.

Kalium dan digitalis berinteraksi dalam 2 cara :
1.Mereka saling menghambat pada pengikatan Na/K ATP-ase.
2.automatisitas jantung yg tidak normal dihambat oleh hiperkalemia. Karenanya peningkatan kalium ekstraseluler yang sedang dapat menurunkan efek digitalis, utamanya efek toksik.

Interaksi Ekskresi

Kompetisi pada sekresi tubulus ginjal adalah mekanisme yang penting dalam interaksi ini.

Contoh :
Probenecid menginhibisi sekresi tubular penisilin, sehingga dapat meningkatkan dan memperlama efek,
Sehingga interaksi ini relatif menguntungkan

Efek yang sama dapat meningkatkan toksisitas kloroquin pada mata pada penderita yg menggunaka probenecid.

Qiunidine menginhibisi sekresi tubular dari digoksin dan konsekuensinya konsentrasi plasma digoksin meningkat dan mungkin menyebabkan toksik, hal yang sama juga terjadi pada verapamil dan digoksin

Interaksi Farmakodinamika

Pada interaksi farmakodinamika precipitant drug mempengaruhi efek dari object drug pada tempat aksi,
baik secara langsung maupun tak langsung.

1.Interaksi farmakodinamika secara langsung
Terjadi jika dua obat yang memiliki aksi ditempat yg sama (antagonis atau sinergis) atau memiliki aksi pada dua tempat yang berbeda yang hasil akhirnya sama.

Antagonis pada tempat yg sama terjadi misalnya:
penurunan efek opiat dengan naloxon
penurunan aksi walfarin oleh vit. K
penurunan aksi obat-obat hipnotik oleh caffeine.
Penurunan aksi obat-obat hipoglikemik oleh glucocorticoids.

Sinergis pada tempat yg sama :
*  adrenoseptor antagonis menyebabkan frekuensi yg sangatVerapamil dan  tinggi dari aritmia jantung dibanding pada pemberian sendiri-sendiri, hal ini mungkin disebabkan oleh adanya interaksi dgn jaringan khusus cardiac.
* Anti hipertensi dan obat-obat yang menyebabkan hipotensi misalnya anti angina, vasodilator.

Interaksi farmakodinamika secara tak langsung

Pada interaksi ini, farmakologik, therapeutic, atau efek toksik dari precipitant drug dalam beberapa kesempatan dapat mengubah efekterapi atau efek toksik dari object drug, tetapi terdapat 2 efek yang tidak berkaitan dan tidak berinteraksi secara mandiri (langsung)
Walfarin dan antikoagulan lain mungkin terlibat interaksi tidak langsung dengan 3 cara :

a.Agregasi platelet
Beberapa obat dapat menurunkan daya agregasi dari platelet, misalnya salisilat, dipiridamol, asam mefenamat, fenilbutazon, dan obat-obat NSAID.

b.Ulcerasi GI
Jika sebuah obat menyebabkan ulcerasi GI, maka akan menyebabkan kemungkinan terjadi pendarahan pada penderita karena pemberian antikoagulan, misalnya aspirin, fenilbutazon, indometasin, dan NSAID lain

c.Fibrinolisis
Obat-obat fibrinolitik misalnya biguanid mungkin meningkatkan efek walfarin.


Ada 4 sasaran interaksi :
1. Interaksi obat – obat
2. Interaksi Obat – makanan
3. Interaksi Obat – penyakit
4. Interaksi Obat – Hasil lab

1. Interaksi Obat-obat
Tipe interaksi obat dengan obat merupakan interaksi yang paling penting dibandingkan dengan ketiga interaksi lainnya (Walker dan Edward, 1999).
Semua pengobatan termasuk pengobatan tanpa resep atau obat bebas harus diteliti terhadap terjadinya interaksi obat, terutama bila berarti secara klinik karena dapat membahayakan pasien

2. Interaksi Obat – makanan
Tipe interaksi ini kemungkinan besar dapat mengubah parameter farmakokinetik dari obat terutama pada proses absorpsi dan eliminasi, ataupun efikasi dari obat.
Contoh: MAO inhibitor dengan makanan yang mengandung tiramin (keju, daging, anggur merah) akan menyebabkan krisis hipertensif karena tiramin memacu pelepasan norepinefrin sehingga terjadi tekanan darah yang tidak normal (Grahame-Smith dan Arronson, 1992),
makanan berlemak meningkatkan daya serap griseofulvin, (Shim dan Mason, 1993).

3. Interaksi Obat – penyakit
Acuan medis seringkali mengacu pada interaksi obat dan penyakit sebagai kontraindikasi relatif terhadap pengobatan.
Kontraindikasi mutlak merupakan resiko, pengobatan penyakit tertentu kurang secara jelas mempertimbangkan manfaat terhadap pasiennya (Shimp dan Mason, 1993).
Pada tipe interaksi ini, ada obat-obat yang dikontraindikasikan pada penyakit tertentu yang diderita oleh pasien. Misalnya pada kelainan fungsi hati dan ginjal, pada wanita hamil ataupun ibu yang sedang menyusui
Contohnya pada wanita hamil terutama pada trimester pertama jangan diberikan obat golongan benzodiazepin dan barbiturat karena akan menyebabkan teratogenik yang berupa phocomelia
Juga pada pemberian NSAID pada Px riwayat tukak lambung

4. Interaksi Obat – Hasil lab
Interaksi obat dengan tes laboratorium dapat mengubah akurasi diagnostik tes sehingga dapat terjadi positif palsu atau negatif palsu.
Hal ini dapat terjadi karena interferensi kimiawi. Misalnya pada pemakaian laksativ golongan antraquinon dapat menyebabkan tes urin pada uribilinogen tidak akurat (Stockley, 1999), atau dengan perubahan zat yang dapat diukur contohnya perubahan tes tiroid yang disesuaikan dengan terapi estrogen (Shimp dan Mason, 1993).


obat setelah dikonsumsi, dan di absorbsi maka akan tersebar keseluruh tubuh melalui darah. dalam darah atau jaringan biasanya mengandung protein. nah obat-obat tertentu akan berikatan tengan protein ini, obat yg berikatan dgn protein tidak aktif alias tidak berkhasiat, obat yg aktif adalah obat bebas. Obat yg berikatan dgan protein ada yg kuat ada yang lemah, yang lemah gampang lepas, menjadi obat bebas trus jadi berkhasiat, lepasnya obat dari protein dapat disebabkan karena hadirnya senyawa baru yang berkeinginan menempati tempat yg diduduki obat di protein, tgt mana yg dominan, kalo obat tsb lebih lemah maka akan terlepas. jika banyak obat yg terikat dengan protein ( berikatan protein tinggi baca banyak )dan diganggu senyawa lain menjadi terlepas semua atau sebagian, maka kondisi ini sangat berbahaya, karena obat aktif akan meningkat tajam, kondisi ini bisa menyebabkan toksik/keracunan obat.
pada kondisi malnutrisi, protein sedikit, yg berikatan sedikit, jadi obat bebas banyak, yg aktif banyak dari biasanya maka dapat menyebabkan keracunan obat



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar