Minggu, 18 Maret 2012

Malnutrisi (Gizi buruk)



PENDAHULUAN

Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar. Gizi masih menjadi masalah yang belum terselesaikan sampai saat ini. Gizi buruk banyak di alami oleh bayi di bawah 5 tahun (balita).

Banyak factor – factor yang dianggap mempengaruhi gizi buruk. Nmun penyebab dasar tejadinya gizi buruk ada 2 hal yaitu sebab langsung dan tidak langsung. Sebab langsung adalah kurangnya asupa gizi dari makanan dan akibat terjadinya penyakit bawaan yang mengakibatkan mudah terinfeksi penyakit DBD, Diare dan lain – lain. Sedangkan kemiskinan di duga menjadi penyebab utama terjadinya gizi buruk. Kurangnya asupan gizi bias di sebabkan oleh terbatasnya jumlah makanan yang di konsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang di butuhkan oleh tubuh.

PEMBAHASAN

2.1       DEFINISI DAN CIRI-CIRI GIZI BURUK

2.1.1    Definisi Gizi Buruk

Gizi buruk adalah keadaan kurag gizi yang di sebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari atau disebabkan oleh gangguan penyakit tertentu, sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi (depkes RI, 1999). Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun (Nency, 2005).

Jadi, Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yangdimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang EnergiProtein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita. Gizi buruk atau lebih dikenal dengan gizi di bawah garis merah adalah keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Tanda-tanda klinis dari gizi buruk secaragaris besar dapat dibedakan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor (RI dan WHO,Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001  2005, Jakarta, Agustus 2000).

Klasifikasi KEP:

1.  KEP ringan   : > 80-90% BB  ideal terhadap TB

2.  KEP sedang : > 70-80% BB  ideal terhadap TB

3.  KEP berat :  70% BB ideal terhadap TB

Menurut departemen kesehatan RI (1999) dalam tata buku tata laksana KEP pada anakdi pukesmas dan di rumah tangga, KEP berdasarkan gejala klinis ada tiga yaitu KEP ringan, sedang, dan berat (gizi buruk). Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak kurus. Gejala klinis KEP berat atau gizi buruk secara garis besar dapat di bedakan sebagai marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor.

2.1.2      Ciri-Ciri Gizi Buruk

1.    Kwashiokor

a.    Edema umumnya diseluruh tubuh dan terutama pada kaki ( dorsumpedis)

b.    Wajah membulat dan sembab

c.    Otot-otot mengecil,lebih mengecil,lebih nyata apabila diperiksa pada posisi   berdiri dan duduk,anak  berbaring terus menerus.

d.    Perubahan status menta; cengeng.rewel,kadang apatis

e.    Anak sering menolak segala jenis makanan (Anoreksia)

f.     Pembesaran hati

g.    Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut

h.    Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam  terkelupas ( crazy pavement dermatosis)

i.      Pandangan mata anak nampak sayu

2.    Marasmus

a.    Anak sangat kurus

b.    Wajah seperti orang tua

c.    Cengeng dan rewel

d.    Rambut tipis,jarang,dan kusam

e.    Kulit keriput

f.     Tulang Iga tampak jelas

g.    Pantat kendur

h.    Perut cekung

i.      Sering disertai diare kronik atau konstipasi/susah buang air,serta penyakit kronik.

j.      Tekanan darah,detak jantung dan pernafasan berkurang

3.     Marasmus-Kwashiokor

 Merupakan campuran dari beberapa ciri-ciri kwashiorkor dan marasmus.

2.3       JENIS-JENIS GIZI BURUK

2.3.1    Marasmus

Marasmus ditandai olehpenciutan/pengurusan (wasting) otot generalisata dan tidak adanya lemak subkutis. Anak marasmus tampak kakektis dan sangat kurus. Mereka derita wasting yang parah dan sering juga mengalami hambatan pertumbuhan linear. Kulit mereka kering, tanpa tugor, dan  tampak longgar dan berkerut karena hilangnya lemak subkubis. , klasik wajah cekung atu berkeriput yan g mirip orang tua,terjadi akibat hilannya banantalan lemak temporal  dan bukal.

2.3.2    Kwasiorkor

Kwasiorkor  disebabkan oleh insufesiensi  asupan protein yang bernilai biologis adekuat,dan seing berkaitan dengan defisiensi asupan energi. Gambaran utama pada malnutrisi tersebut adalah edema yang lunak,pitting, dan tidak nyeri ,biasanya di kakl  tungkai kaki dapat meluas.

2.3.3    Kwasior Marasmus

Bentuk kwasior marasmus dari malnutrisi protein protein-energi ditandai dengan gambaran klinis kedua jeni8smalnutrisi. Keadaan ini dapat  terjadi pada malnutrisi kronik saat saat jaringan subkutis, massa otot, dan simpanan lemak menghilang. Gambaran utama tanpa lesi kulit, kekaksia marasmus.

2.3       Epidemiologi

Masalah kesehatan yang menimbulkan perhatian masyarakat cukup besar akhir-akhir ini adalah masalah gizi kurang dan gizi buruk. Walaupun sejak tahun 1989 telah terjadi penurunan prevalensi gizi kurang yang relatif tajam, mulai tahun 1999 penurunan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada balita relatif lamban dan cenderung tidak berubah. Saat ini terdapat 10 provinsi dengan prevalensi gizi kurang di atas 30, dan bahkan ada yang di atas 40 persen, yaitu di Provinsi Gorontalo, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua.

Kurang energi dan protein pada tingkat parah atau lebih populer disebut busung lapar, dapat menimbulkan permasalahan kesehatan yang besar dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada anak. Menurut data Susenas 2003, diperkirakan sekitar 5 juta (27,5 persen) anak balita menderita gizi kurang, termasuk 1,5 juta (8,3 persen) di antaranya menderita gizi buruk. Data Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2004 masih terdapat 3,15 juta anak (16 persen) menderita gizi kurang dan 664 ribu anak (3,8 persen) menderita gizi buruk. Pada tahun 2005 dilaporkan adanya kasus gizi buruk tingkat parah atau busung lapar di Provinsi NTB dan NTT, serta beberapa provinsi lainnya. Penderita kasus gizi buruk terbesar yang dilaporkan terjadi di Provinsi NTB, yaitu terdapat 51 kasus yang dirawat di rumah sakit sejak Januari sampai dengan Mei 2005. Jumlah kasus di sembilan provinsi sampai Juni 2005 dilaporkan sebanyak 3.413 kasus gizi buruk dan 49 di antaranya meninggal dunia.

Munculnya kejadian gizi buruk ini merupakan “fenomena gunung es” yang menunjukkan bahwa masalah gizi buruk yang muncul hanyalah sebagian kecil dari masalah gizi buruk yang sebenarnya terjadi. Di Provinsi NTB, misalnya, berdasarkan hasil pencatatan dan pelaporan sejak Januari-Juni 2005 hanya ditemukan sekitar 900 kasus. Namun, diperkirakan terdapat 2.200 balita marasmus kwashiorkor. Masalah busung lapar terutama dialami oleh anak balita yang berasal dari keluarga miskin.

Dua faktor penyebab utama terjadinya gizi buruk tersebut adalah rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari dan terjadi dalam kurun waktu yang lama. Penyebab kedua adalah terjadinya serangan penyakit infeksi yang berulang. Kedua faktor ini disebabkan oleh tiga hal secara tidak langsung, yaitu (1) ketersediaan pangan yang rendah pada tingkat keluarga; (2) pola asuh ibu dalam perawatan anak yang kurang memadai; dan (3) ketersediaan air bersih, sarana sanitasi, dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terbatas. Penyebab tidak langsung tersebut merupakan konsekuensi dari pokok masalah dalam masyarakat, yaitu tingginya pengangguran, tingginya kemiskinan, dan kurangnya pangan.

Gizi buruk ini menjadi masalah di negara-negara miskin dan berkembang di Afrika, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Asia Selatan. Di negara maju sepeti Amerika Serikat kwashiorkor merupakan kasus yang langka. Berdasarkan SUSENAS (2002), 26% balita di Indonesia menderita gizi kurang dan 8% balita menderita gizi buruk (marasmus, kwashiorkor, marasmus-kwashiorkor).

Pada umumnya masyarakat indonesia telah mampu mengkonsumsi makanan yang cukup secara kuantitatif. Namun dari segi kualitatif masih cukup banyak yang belum mampu mencukupi kebutuhan gizi minimum. Departemen Kesehatan juga telah melakukan pemetaan, dan hasilnya menunjukan bahwa penderita gizi kurang ditemukan di 72% kabupaten di Indonesia. Indikasinya 2 – 4 dari 10 balita di Indonesia menderita gizi kurang.

Sesuai dengan survai di lapangan, insiden gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita yang dirawat mondok di rumah sakit masih tinggi. 935 (38%) penderita malnutrisi dari 2453 anak balita yang dirawat di RSU Dr. Pirngadi Medan. Mereka terdiri dari 67% gizi kurang dan 33% gizi buruk. Penderita gizi buruk yang paling banyak dijumpai ialah tipe marasmus. Arif di RS. Dr. Sutomo Surabaya mendapatkan 47% dan Barus di RS Dr. Pirngadi Medan sebanyak 42%. Hal ini dapat dipahami karena marasmus sering berhubungan dengan keadaan kepadatan penduduk dan higiene yang kurang di daerah perkotaan yang sedang membangun dan serta terjadinya krisis ekonomi di ludonesia.

2.4       ETIOLOGI GIZI BURUK

Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu :

1)    Kurangnya asupan gizi dari makanan. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan.

2)    Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.

Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk yaitu :

1)    Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat.

2)    Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan asuh anak.

3)    Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 faktor penyebab gizi buruk pada balita, yaitu :

1)    Keluarga miskin.

2)    Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak.

3)    Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernapasan dan diare.

2.5       PATOFISIOLOGI GIZI BURUK

 

           Patofisiologi gizi buruk pada balita adalah anak sulit makan atau anorexia bisa terjadi karena penyakit akibat defisiensi gizi, psikologik seperti suasana makan, pengaturan makanan dan lingkungan. Rambut mudah rontok dikarenakan kekurangan protein, vitamin A, vitamin C dan vitamin E. Karena keempat elemen ini merupakan nutrisi yang penting bagi rambut. Pasien juga mengalami rabun senja. Rabun senja terjadi karena defisiensi vitamin A dan protein. Pada retina ada sel batang dan sel kerucut. Sel batang lebih hanya bisa membedakan cahaya terang dan gelap. Sel batang atau rodopsin ini terbentuk dari vitamin A dan suatu protein. Jika cahaya terang mengenai sel rodopsin, maka sel tersebut akan terurai. Sel tersebut akan mengumpul lagi pada cahaya yang gelap. Inilah yang disebut adaptasi rodopsin. Adaptasi ini butuh waktu. Jadi, rabun senja terjadi karena kegagalan atau kemunduran adaptasi rodopsin.

            Turgor atau elastisitas kulit jelek karena sel kekurangan air (dehidrasi). Reflek patella negatif   terjadi karena kekurangan aktin myosin pada tendon patella dan degenerasi saraf motorik akibat dari kekurangn protein, Cu dan Mg seperti gangguan neurotransmitter. Sedangkan, hepatomegali terjadi karena kekurangan protein. Jika terjadi kekurangan protein, maka terjadi penurunan pembentukan lipoprotein. Hal ini membuat penurunan HDL dan LDL. Karena penurunan HDL dan LDL, maka lemak yang ada di hepar sulit ditransport ke jaringan-jaringan, pada akhirnya penumpukan lemak di hepar.

            Tanda khas pada penderita kwashiorkor adalah pitting edema. Pitting edema adalah edema yang jika ditekan, sulit kembali seperti semula. Pitting edema disebabkan oleh kurangnya protein, sehingga tekanan onkotik intravaskular menurun. Jika hal ini terjadi, maka terjadi ekstravasasi plasma ke intertisial. Plasma masuk ke intertisial, tidak ke intrasel, karena pada penderita kwashiorkor tidak ada kompensansi dari ginjal untuk reabsorpsi natrium. Padahal natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pada penderita kwashiorkor, selain defisiensi protein juga defisiensi multinutrien. Ketika ditekan, maka plasma pada intertisial lari ke daerah sekitarnya karena tidak terfiksasi oleh membran sel dan mengembalikannya membutuhkan waktu yang lama karena posisi sel yang rapat.    

            Edema biasanya terjadi pada ekstremitas bawah karena pengaruh gaya gravitasi, tekanan hidrostatik dan onkotik (Sadewa, 2008).

Sedangkan menurut Nelson (2007), penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti hubungan orang tua dengan anak terganggu, karena kelainan metabolik atau malformasi kongenital. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus. Secara garis besar sebab-sebab marasmus adalah sebagai berikut :

a. Masukan makanan yang kurang : marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak, misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer.

b.  Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enteral misalnya infantil gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephiritis dan sifilis kongenital.

c. Kelainan struktur bawaan misalnya : penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschpurng, deformitas palatum, palatoschizis, mocrognathia, stenosis pilorus. Hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pankreas

d. Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus. Pada keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang kuat

e. Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup

f. Gangguan metabolik, misalnya renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galactosemia, lactose intolerance

g. Tumor hypothalamus, kejadian ini jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab maramus yang lain disingkirkan

h. Penyapihan yang terlalu dini desertai dengan pemberian makanan tambahan yang kurang akan menimbulkan marasmus

i. Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya marasmus, meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan pemberian susu manis dan susu yang terlalu encer akibat dari tidak mampu membeli susu, dan bila disertai infeksi berulang terutama gastroenteritis akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus
2.5.1    Perjalanan Penyakit Gizi Buruk

Seorang anak bisa menjadi gizi buruk bisa berada dalam 3 tahap :

    Status Gizi Normal
        Ibu tidak mengetahui makanan yang tepat untuk diberikan pada balita.
        Anak balita terpajan dengan iklan panganan ringan yang tidak bergizi.
        Asupan buat anak tidak diistimewakan sebagaimana yang dipersiapkan untuk ayah atau ibunya.
        Tidak rutin datang ke Posyandu.
        Pada saat seperti ini anak masih berada dalam keadaan status gizi normal, namun berpotensi mendapatkan gangguan gizi. Pada usia < 6 bulan sebagian besar bayi (> 80%) masih disusui ibu. Dengan menetek, anak mendapatkan gizi yg seimbang & zat kebal dari asi anak jarang sakit pertumbuhan anak masih baik.

    Status Gizi Kurang / Menurun (Fase Gangguan Gizi)

Pada saat ini balita mengalami gangguan gizi, ini terjadi karena tidak terpantaunya berat badan anak. Pada usia 6 bln – 12 bln sebagian bayi sudah mulai disapih perlindungan zat kebal dari asi mulai berkurang & pemberian mp-asi kurang memenuhi syarat : jenis, jumlah, jadwal, higienis (3j-1h). Anak mudah jatuh sakit dan pertumbuhan mulai terganggu.

    Status Gizi Buruk

Pada saat ini status anak makin memburuk dan sudah menampakkan gejala-gejala penyakit. Anak sudah terlihat kurus sampai dengan sangat kurus. Pada saat ini anak rentan terhadap hawa dingin, khususnya pada bayi bisa berakibat kematian. Anak juga mengalami kekurangan energi (glukosa darah menurun) dan kekurangan protein. Pada beberapa kasus yang severe tidak hanya pembentukan otot yang gagal bahkan sampai dengan pembentukan otak bisa tidak terjadi (microcephali). Kematian bisa terjadi di tahap ini, bisa karena berbagai sebab.
 
2.6       MANIFESTASI KLINIS GIZI BURUK

Gizi buruk atau malnutrisi dapat diartikan sebagai asupan gizi yang buruk. Hal ini bisa diakibatkan oleh kurangnya asupan makanan, pemilihan jenis makanan yang tidak tepat ataupun karena sebab lain seperti adanya penyakit infeksi yang menyebabkan kurang terserapnya nutrisi dari makanan. Secara klinis gizi buruk ditandai dengan asupan protein, energi dan nutrisi mikro seperti vitamin yang tidak mencukupi ataupun berlebih sehingga menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan.
KEP berat secara klinis terdapat 3 tipe yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmik- kwashiorkor. KEP ringan atau sedang disertai edema yang bukan karena penyakit lain disebut KEP berat TIPE Kwashiorkor.

2.6.1.  Gejala Klinis Kurang Energi Protein (KEP) dari marasmus

1.    Tampak sangat kurus (tulang terbungkus kulit)

2.    Wajah seperti orang tua

3.    Cengeng dan Rewel

4.    Sering disertai: penyakit kronik, diare kronik

5.    Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sediki tsampai tidak ada (~pakai celana longgar-baggy pants)

6.    Perut cekung

7.    Iga gambang

2.6.2     GejalaKlinisKurangEnergi Protein (KEP) dari kwashiorkor

1.    gejala terpenting ialah pertumbuhan yang terganggu. Selain berat badan juga tinggi badan kurang dibandingkan dengan anak sehat

2.    Perubahan mental biasanya penderita cengeng dan pada stadium lanjut menjadi apatis.

3.    pada sebagian besar penderita ditemukan edema baik ringan maupun yang berat.

4.    Wajah membulatdansembab

5.    Pandangan mata sayu

6.    Rambut tipis, kemerahan seperti seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok

7.    Pembesaran hati

8.    Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi  berdiri atau duduk

9.    Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkupas( crazy pavement dermatosis)

10. Sering disertai: infeksi, anemia, diare

2.6.3   Gejala Klinis Marasmus-Kwashiorkor

Gejala Klinis Kurang Energi Protein (KEP) dari Marasmus-kwashiorkor   pada dasarnya adalah campuran dari  gejala marasmus dan kwashiorkor, cirri khas yang dapat terlihat secara klinis yakni :

1.    Beberapagejalaklinik marasmus,  terlihatsangatburukberat badan kurang dari 60% berat anak normal seusianya.

2.    Kwashiorkorsecaraklinisterlihatdisertai edema yang  tidakmencolokpadakeduapunggung kaki

Pada setiap penderia KEP berat, selalu periksa adanya gejala defisiensi Nutrien Mikro yang sering menyertai seperti:

1.    xerophthalmia (defisiensi Vitamin A),

2.    Anemia (Kekurangan Fe, Cu, Vit. B12, Asam Folat)

3.     Stomatitis (kekurangan vit. B, vit. C)

4.     Kelainan pada kulit, gangguan pertumbuhan (kekurangan Zn)

5.    Beri-beri (kekurangan vitamin B1)

2.7       DIAGNOSIS GIZI BURUK( ANAMNESIS & PEMERIKSAAN FISIK)

2.7.1   Anamnesis Awal (Untuk Kedaruratan)
a.  badan kurus sejak 3 bulan
b. sulit makan
c. rambut mudah rontok
d.tangan dan kaki sering keram dan rabun senja

2.7.2   Anamnesis lanjutan
a. Makanan biasa sebelum sakit
b.Riwayat ASI
c. frekuensi, dan konsistensi muntah atau diare
d.Kehamilan  perawatan antenatal:di ...setiap minggu/bulan

e.Kelahiran:Tempat kelahiran:RS/Rumah

            f.Penolong  persalinan :Dokter/bidan/dukun

g.Keadaan Bayi:Berat lahir  g:,panjang cm,lingkar kepala cm, langsung     ...menangis/tidak h.Kelainan bawaan:
i.Tumbuh kembang
                         Tengkurap :                                bulan
 Duduk                                         bulan
                         Berdiri                                         bulan
                         Berjalan:                                      bulan
             Bicara:                                          bulan
j.Imunisasi Lengkap
Jenis imunisasi:BCG,campak,folio,DPT,Hepatitis
            k.Apakah ditimbang setiap bulan
l.Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang sosial anak)
 
2.7.3.Pemeriksaan Fisik

a)    Inspeksi

• Mata : agak menonjol

• Wajah : membulat dan sembab

• Kepala : rambut mudah rontok dan kemerahan

• Abdomen : perut terlihat buncit

• kulit : adakah Crazy pavement dermatosis, keadaan turgor kulit,odema

b)    Palpasi

c)    Auskultasi

d)    Peristaltic usus abnormal

e)    Apakah anak tampak sangat kurus/ odema/ pembengkakan kedua kaki

f)     Tanda-tanda terjadinya syok (rejatan) : tangan dan kaki dingin, nadi lemah, dan kesadaran menurun

g)    Frekuensi dan tipe pernapasan: pneumonia atau gagal jantung

h)   Tanda dehidrasi: tampak haus, mata cekung, turgor buruk (hati-hati menentukan status dehidrasi pada gizi buruk).

i)     Frekuensi pernafasan dan tipe pernafasan: gejala pneumonia atau gejala gagal jantung

j)      Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB.

k)    Pembesaran hati dan adanya kekuningan (ikterus) pada bagian putih mata (conjunktiva)

l)     Adanya perut kembung, suara usus, suara usus, dan adanya suara seperti pukulan pada permukaan air (abdominal splash)

m)  Pucat yang sangat berat
- Kulit: tanda infeksi atau purpura
- pemeriksaan tanda utama pasien di mulai dari frekuensi nadi,frekuensi  nafas,pengukuran suhu tubuh.

n)   Penilaian status gizi pada pasien dimulai dengan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan atas.Dengan menggunakan pengukuran status gizi berdasarkan CDC maka BB/TB x 100% =memberikan hasil bahwa status gizi pasien gizi kurang.

o)    Pemeriksaan pasien dilanjutkan dengan pemeriksaan khusus, Dimulai dengan pemeriksaan kulit, pemeriksaan kepala, pemeriksaan mulut, pemeriksaan leher, Pemeriksaan thoraks, Pemeriksaan dilanjutkandengan pemeriksaan paru, Pemeriksaan abdomen, pemeriksaan genitalia, Lalu pemeriksaan anak ini dilanjutkan pada daerah ekstremitas,

2.8       PROGNOSIS GIZI BURUK

Gizi buruk yang hebat mempunyai angka kematian yang tinggi. Kematian sering disebabkan oleh infeksi sering tidak dapat dibedakan kematian karena infeksi atau karena gizi buruk itu sendiri. Prognosis tergantung dari stadium saat pengobatan mulai dilaksanakan. Pada penderita gizi buruk pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan  penderita gizi buruk tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan tentang pemberian makanan yg baik, sedangkan penderita yang komplikasi serta dehidrasi , syok dan lain-lain perlu mendapat perawatan dirumah sakit.

Lebih dari 40% anak menderita gizi buruk meninggal. Kematian ini terjadi mulai dari hari pertama pengobatan biasanya disebabkan oleh

Ø  Gangguan elektrolit

Ø  Infeksi

Ø  Hipotermia (suhu tubuh yang sangat rendah)

Ø  Kegagalan jantung

Keadaan setengah sadar (stupor), jaundice (sakit kuning), pendarahan kulit, rendahnya kadar natrium darah, dan diare yang menetap merupakan pertanda buruk. Pertanda baik adalah hilangnya apati, edema dan pertambahan nafsu makan.

Efek jangka panjang pada masa kanak-kanak tidak diketahui. Jika anak-anak diobati dengan tepat maka sistem kekebalan, hati akan sembuh sempurna. Tetapi pada beberapa anak penyerapan gizi di usus tetap mengalami gangguan.

Beratnya gangguan mental yang dialami berhubungan dengan lamanya anak menderita gizi buruk, beratnya gizi buruk, dan usia anak saat mederita gizi buruk keterbelakangan mental yang bersifat ringan bisa menetap sampai anak mencapai usia sekolah dan mungkin lebih.

Pengobatan pada penderita gizi buruk tentu saja harus disesuaikan pada tingkatannya. Penderita gizi buruk stadium ringan contohnya diatasi dengan perbaikan gizi. Dalam sehari anak-anak ini harus mendapatkan asupan protein sekitar 2-3 gram atau setara dengan 100-150 Kkal.

Pengobatan gizi buruk berat cenderung lebih kompleks karena masing-masing penyakit yang menyertai harus diobati satu persatu. Penderita pun sebaiknya harus dirawat dirumah sakit agar mendapat  perhatian medis secra penuh. Sejalan dengan pengobatan penyakit penyerta maupun infeksinya status gizi anak tersebut terus diperbaiki hingga sembuh. Memulihkan keadaan gizinya dengan cara mengobati penyakit penyerta, peningkatan taraf gizi dan mencegah gejala dan kekambuhan dari gizi buruk.

2.9       PENCEGAHAN DARI GIZI BURUK

Cara pencegahan gizi buruk secara umum ialah dapat dicegah dengan memberikan makanan yang bergizi pada anak berupa sayur mayur, buah-buahan, makanan yang mengandung karbohidrat (seperti nasi, kentang, jagung), makanan yang mengandung protein (telur, ikan ,daging) melakukan posyiandu secara rutin seperti(imunisasi) , dan berikanlah ASI bagi anak usia 0 – 2 tahun.

Gizi buruk terbagi menjadi 3 yaitu :

1.     Marasmus

Marasmus adalah penyakit kelaparan dan terdapat banyak diantara kelompok social ekonomi rendah di sebagian besar Negara sedang berkembang dan lebih banyak dari pada kwashiorkor.

Cara pencegahan :

Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksanakan dengan baik bila penyebab diketahui.Usaha-usaha  tersebut memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi.

a.    Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi.

b.    Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun ke atas.

c.    Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan.

d.    Pemberian imunisasi.

e.     Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap.

f.     Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang.

g.     Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.

2.     Kwashiorkor

Kwashiorkor merupakan syndrome klinis akibat dari defisiensi berat dan masukan kalori tidak cukup.

Cara Pencegahan :

a.    Pencegahannya dapat berupa diet adekuat dengan jumlah-jumlah yang tepat dari protein (12 % dari total kalori). Sentiasa mengamalkan konsumsi diet yang seimbang dengan cukup karbohidrat, cukup lemak. Protein terutamanya harus disediakan dalam makanan. Untuk mendapatkan sumber protein yang bernilai tinggi bisa didapatkan dari protein hewan seperti susu, keju, daging, telur dan ikan. Bisa juga mendapatkan protein dari protein nabati seperti kacang ijo dan kacang kedelei,karena kwashiorkor tidak hanya mengalami perjalanan serius dan sering mematikan tetapi sering menimbulkan pengaruh di kemudian hari yang permanen dan merusak pada anak yang sembuh dan keturunannya.

b.    Menjaga kebersihan, terutama keadaan lingkungan dan makanan supaya tidak mudah dihinggapi infeksi dan infestasi parasit dan timbulnya diare, mempercepat atau merupakan trigger mechanisme dari penyakit ini.

3.     Marasmus – Kwashiorkor

Cara pencegahan marasmus – kwashiorkor adalah gabungan dari pencegahan yang ada pada marasmus dan kwashiorkor.

2.10    PEMERIKSAAN PENUNJANG GIZI BURUK

1. Pemeriksaan Laboratorium

a.    Pada pemeriksaan darah meliputi Hb, albumin, globulin, protein total, elektrolit serum, biakan darah

b.    Profil lipid (lipid total, trigliserida, kolesterol, LDL, HDL)

2. Pemeriksaan urine

    Pemeriksaan urine meliputi urine lengkap dan kulture urine
3. Uji faal hati
4. EKG
5. X foto paru

6. Pemeriksaan radiologis: usia tulang, osteoporosis / osteomalsia

7.  Pemeriksaan antropometris: BB, TB, BB/TB, LLA, LK

2.10.1 Pemeriksaan Laboratorium

Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik normokrom karena  adanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sum-sum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun. Pemeriksaan radiologis juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru.

Pemeriksaan ini meliputi kaidah pemeriksaan laboratorium klinis secara umum. Berupa pemeriksaan metabolit abnormal, perubahan aktivitas enzim, komponen darah atau fungsi fisiologis yang tergantung dari zat gizi tertentu (Gibson,2005), yaitu :

1.    Pemeriksaan status protein yang digunakan untuk penilaian status nutrisi : kadar albumin serum dengan nilai normal 3,5-5,0 gr/dl

2.    Transferin Serum dengan nilai normal > 200 mg/dl

3.    Fungsi imunitas ; hitung limfosit total (%limfosit x sel darah putih)/100 dengan nilai normal diatas 1500 sel/mm2

4.    Pemeriksaan lain : Gula darah (BSS), profil lipid (kolesterol,triglyserid,LDL dan HDL), fungsi ginjal (ureum, kreatinin), fungsi hati (sgot,sgpt, bilirubin,gama gt dan alkalin fosfatase), fungsi tulang, otot dan sendi (asam urat, ASTO,CRP dan Rematic Factor)

Pemeriksaan penunjang status gizi lainnya dengan foto rontgen, CT scan, MRI dan USG.

Diagnosa kerja pada kelainan nutrisi yaitu Status Gizi Antropometrik : obesitas,pre-obes,marasmus, kwarshiorkor, chronic energy deficiency

Pemeriksaan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain: darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot .

Uji biokimiawi yang penting ialah pemeriksaan kadar hemoglobin, pemeriksaan apusan darah untuk malaria, pemeriksaan protein. Ada dua jenis protein, viseral dan somatik, yang layak dijadikan parameter penentu status gizi. Pemeriksaan tinja cukup hanya pemeriksaan occult blood dan telur cacing saja.

2.10.2 Pemeriksaan Antropometris

Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa, 2002).

Penilaian antropometris yang penting dilakukan ialah penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan, lingkar lengan, dan lipatan kulit triseps. Pemeriksaan ini penting, terutama pada anak yang berkelas ekonomi dan sosial rendah. Pengamatan anak dipusatkan terutama pada percepatan tumbuh.

Antropometri adalah pengukuran berbagai dimensi fisik tubuh manusia pada berbagai usia. Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan nilai/data mentah pada seorang individu, misalnya umur, BB, TB, LLA, LK dan sebagainya. Indeks merupakan kombinasi hasil pengukuran, misalnya BB/U, TB/U dan sebagainya. Indikator adalah cut-off points untuk suatu indeks.

2.10.2.1  Berat badan

    Berat badan merupakan parameter pertumbuhan yang paling sederhana, mudah dilakukan dan diulang serta merupakan indeks untuk status gizi sesaat. Pengukuran dilakukan tanpa pakaian atau pakaian seminim mungkin dan tanpa sepatu. Keakuratan penimbangan pada anak besar 0,5 kg dan anak kecil/bayi 0,1 kg. Untuk mengevaluasinya diperlukan data umur yang tepat, jenis kelamin dan acuan standar. Interpretasi:

BB/U dibandingkan standar yang diacu, dalam persentase:

80-120%        Gizi baik

60-80%          Gizi kurang (tanpa edema), gizi buruk bila disertai

edema.

< 60%             Gizi buruk

Penilaian:

5-10%             kehilangan BB ringan

15-25%          kehilangan BB sedang

> 25%             kehilangan BB berat

2.10.2.2  Tinggi badan

    Tinggi badan merupakan parameter sederhana, mudah dilakukan dan diulang serta bila dihubungkan dengan BB akan memberikan informasi yang bermakna. Cara pengukurannya adalah anak berdiri tegak dan mata menatap lurus ke depan, punggung menempel pada alat pengukur panjang pada tembok/dinding tegak lurus. Untuk bayi atau anak yang belum bisa berdiri, pengukuran dilakukan dalam posisi terlentang.

2.10.2.3  Berat badan menurut tinggi badan

    Rasio BB/TB sangat penting dan lebih akurat dalam penilaian status gizi karena mencerminkan proporsi tubuh serta dapat membedakan antara wasting dan stunting atau perawakan pendek. Indeks pada anak perempuan hanya sampai 135 cm dan anak laki-laki sampai TB 145 cm dan setelah itu rasio BB/TB tidak begitu banyak berarti karena adanya percepatan tumbuh. Indeks ini tidak memerlukan faktor umur.

BB/TB (%) = [BB aktual/BB menurut TB aktual] x 100%

Interpretasi:

1.  Jika BB/TB (%):

 > 120%          Obesitas

110-120%      Overweight

 90-110%       Normal

 70-90%         Gizi kurang

  <70%            Gizi buruk

2.  Nilai BB/TB di sekitar persentil 50 menunjukkan normal. Makin jauh deviasi yang terjadi makin besar pula kelebihan atau kekurangan gizi pada individu tersebut.

2.10.2.4  Lingkar lengan atas

                Pemeriksaan ini digunakan pada anak 1-5 tahun, dan sudah dapat menunjukkan status gizi anak. Pengukuran dilakukan pada lengan kiri, pertengahan akromion dan olekranon, menggunakan pita pengukur yang tidak melar atau pita khusus (WHO/CARE) yang diberi warna hijau (> 12,5 cm), kuning (11,5-12,5 cm) dan merah (<11,5 cm).

Interpretasi:

<11,5 cm                    Gizi buruk (merah)

11,5-12,5 cm             Gizi kurang (kuning)

>12,5 cm                    Gizi baik (hijau)

Interpretasi LLA/U:

85-10%          Gizi baik/normal

70-85%          Gizi kurang

< 70%             Gizi buruk

Interpretasi LLA/TB:

 >85% Gizi baik/normal

80-85%          Borderline / KKP-I

75-80%          Gizi kurang / KKP-II

< 75%             Gizi buruk / KKP-III

2.10.2.5  Lingkaran kepala

    Lingkar kepala dipengaruhi oleh status gizi anak sampai usia 36 bulan. Pengukuran rutin dilakukan untuk menjaring kemungkinan adanya penyebab lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan otak. Pengukuran dilakukan dengan pita pengukur yang tidak melar, tepat diatas supra orbita pada bagian yang paling menonjol dan melalui oksiput sehingga didapat nilai lingkar kepala yang maksimal.

Interpretasi:

LK < persentil 5 atau < -2SD menunjukkan kemungkinan malnutrisi

kronik pada masa intrauterin atau masa bayi/anak dini.
2.10.3 Pemeriksaan EKG (Elektrokardiogram)

EKG adalah salah satu bagian dalam pemeriksaan penunjang untuk mengevaluasi keadaan jantung kita. Beberapa gangguan jantung (misalnya infark -adanya kerusakan otot jantung karena kekurangan oksigen-, atau adanya pembesaran jantung, dan lainnya) dapat menyebabkan gangguan aktivitas listrik jantung. Jadi, adanya gangguan ini dapat terlihat di EKG

2.11PENATALAKSANAAN GIZI BURUK

2.11.1 Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak

Pedoman dalam deteksi pertumbuhan anak balita adalah dengan menggunakan berat badan (BB) terhadap tinggi badan (TB). Deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang anak dapat dilakukan melalui :

1.    Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan anak di posyandu atau puskesmas

2.    Mencatat berat badan anak dalam KMS (kartu menuju sehat)

3.    Membaca kecenderungan berat badan anak pada KMS, meliputi :

a.    jika berat badan naik dibanding bulan lalu lebih cepat dari garis baku disebut N 1 (tumbuh kejar)

b.    jika berat badan naik dibanding bulan lalu sesuai dengan garis baku disebut N 2 (tumbuh normal)

c.    jika berat badan naik dibanding bulan lalu lebih lambat dibanding garis baku disebut T1 (tumbuh  tidak memadai)

d.    jika berat badan tetap dibanding bulan lalu sehingga garis pertumbuhan mendatar disebut T2 (tidak tumbuh)

e.    jika berat badan dibanding bulan lalu turun sehingga garis pertumbuhan turun disebut T3 ( tumbuh negatif)

4.    Melakukan pemeriksaan adanya tanda bahaya, yang meliputi : adanya renjatan atau syok, keadaan tidak sadar atau letargis serta adanya muntah/diare/dehidrasi

5.    Melakukan pemeriksaan fisik

6.    Merujuk anak apabila

a.    ditemukan 2 kali T berturut-turut meskipun BB di KMS masih diatas garis merah

b.    BB dibawah garis merah di KMS (kartu menuju sehat)

2.11.2 Pengobatan Dan Perawatan Anak Gizi Buruk

2.11.2.1  Pengobatan dan perawatan fase stabilisasi

    Prosedur tindakan pengobatan dan perawatan terhadap anak balita gizi buruk sebelum dirujuk, meliputi :

1) Pengobatan atau pencegahan hipoglikemia

2) Pengobatan dan pencegahan hipotermia

3) Pengobatan dan pencegahan dehidrasi

4) Pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit

5) Pengobatan atau pencegahan infeksi

6) Pemberian makanan yang sesuai dengan kondisi anak balita

7) Pemberian multivitamin

8) Pemantauan masa tumbuh kejar

2.11.2.2  Pengobatan dan perawatan fase stabilisasi dibagi dalam :

1) Perawatan Awal pada Fase Stabilisasi, yang meliputi:

a) pemeriksaan berat badan dan suhu tubuh (aksila)

b) memberikan oksigen apabila disertai renjatan atau syok

c) menghangatkan tubuh

d) memberikan cairan dan makanan sesuai dengan rencana

e) memberikan antibiotic sesuai umur

2) Perawatan Lanjutan pada Fase Stabilisasi, yang meliputi:

a)    melakukan anamnesa untuk konfirmasi kejadian campakdan TB paru

b)    melakukan pemeriksaan umum, meliputi tinggi badan, thorax, abdomen, otot dan   jaringan lemak

c)    melakukan pemeriksaan khusus, meliputi mata, kulit, telinga, hidung, tenggorokan

d)    melakukan pemeriksaan laboratorium, meliputi kadar guladarah dan Hemoglobin

e)    memberikan tindakan meliputi Vitamin A, asam folat, multivitamin tanpa Fe/ ferrum (besi), pengobatan penyakit penyulit

f)     melakukan stimulasi

3) Perawatan Lanjutan pada Fase Transisi :

a)    melakukan pemeriksaan berat badan

b)    memberikan makanan untuk tumbuh kejar

c)    memberikan multivitamin tanpa Fe (besi)

d)    melakukan stimulasi

e)    pengobatan penyakit penyulit

4) Perawatan lanjutan pada Fase Rehabilitasi :

a)    melakukan monitoring tumbuh kembang

b)    memberikan multivitamin dengan Fe (besi)

c)    pengobatan penyakit penyulit

d)    melakukan persiapan pada ibu

e)    melakukan stimulasi

2.11.3 Prosedur tetap penatalaksanaan fase rehabilitasi di puskesmas

1)    mengkaji berat badan

2)    observasi keadaan kesehatan

3)    memberikan makanan secara bertahap

4)    menentukan kebutuhan energi dan protein pada anak

5)    memberikan makanan porsi kecil dan sering

6)    menganjurkan ASI sampai 2 tahun

7)    menimbang berat badan anak setiap 2 minggu

8)    penyuluhan pada orangtua

9)    menganjurkan keluarga untuk memantau kesehatan secarateratur ke posyandu

2.11.4 Perawatan Tindak Lanjut di Rumah Bagi Anak Gizi Buruk

Setelah anak pulang dari tempat perawatan, harus dilakukan:

1) pemberian makan yang baik,  

2) stimulasi tumbuh kembang,

3) penyuluhan kepada orang tua untuk kunjungan ulang, pemberian makanan, terapi bermain, serta imunisasi

4) pemberian vitamin A

5) pemantauan anak di rumah

Perawatan fase tindak lanjut bagi anak gizi buruk meliputi :

1) Melanjutkan pola pemberian makan yang baik dan stimulasi dilanjutkan di rumah setelah pulang dari rumah sakit

2) Memberikan contoh kepada orang tua cara membuat menu dan makanan dengan kandungan energi dan zat gizi yang padat sesuai dengan umur dan berat badan anak

3) Memberikan contoh pada orang tua cara terapi bermain

4) Menyarankan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan porsi kecil tapi sering sesuai dengan umur anak

5) Menyarankan kepada orang tua untuk membawa control secara teratur yaitu :

a) bulan I : 1 x setiap minggu

b) bulan II : 1x setiap 2 minggu

c) bulan III - IV : 1x setiap bulan

6) Memberikan imunisasi dasar dan ulangan (booster)

7) Memberikan vitamin A dosis tinggi setiap 6 bulan sekali

2.11.5   Cara Memberikan Stimulasi Sensorik Dan Dukungan Emosional Pada   Anak Gizi Buruk

Pada anak gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku, oleh karena itu harus diberikan :

a.    Kasih sayang

b.    Lingkungan yang ceria

c.    Terapi bermain selama 15-30 menit setiap hari, contohnya bermaincilukba

d.    Aktifitas fisik segera setelah sembuh

e.    Keterlibatan ibu dalam memberi makan, memandikan, bermain danlain-lain.

2.11.6 Pedoman Pemberian Makanan Balita Gizi Buruk

Pemberian makanan bagi anak dengan gizi buruk antara lain :

1.    Apabila anak belum mencapai umur 2 tahun maka ASI tetap diberikan. Bila selama dirawat anak tidak diberi ASI, maka setelahkembali dari rawat inap anak harus tetap diberi ASI.

2.    Balita gizi buruk setelah kembali dari rawat inap di Puskesmaas /Rumah Sakit, perlu diikuti dengan pengamatan dan perhatian terusmenerus terhadap kesehatan dan gizi, antara lain denganpemberian makanan yang sesuai dengan kebutuhannya.

3.    Pemberian makanan sedapat mungkin dibuat dari bahan makananyang tersedia di rumah tangga, harga murah dan pembuatannyamudah. Disamping itu anak gizi buruk setelah kembali dari rawatinap harus tetap mendapat vitamin A di posyandu dua kali setahundan sirup besi.

4.    Anak yang menderita gizi buruk biasanya mempunyai masalah pada fungsi alat pencernaan, sehingga dalam pemberianmakanannya memerlukan perhatian khusus. Sebagai patokanyang digunakan dalam pemberian makanan kepada anak giziburuk adalah berat badan, bukan umur.

5.    Karena sebagian alat pencernaan tubuh anak yang menderita gizi buruk belum berfungsi dengan baik, maka bentuk makanan sampaianak mencapai berat badan 7kg mengikuti bentuk makanan pendamping ASI (MP ASI), berupa makanan cair, lembik dan lunak.

6.    Petugas harus selalu memantau dan membina melalui konselingdengan cara kunjungan ke rumah tangga paling sedikit sekalidalam seminggu

7.    Jika anak sudah diberi makan sesuai ketentuan, tetapi dalam satubulan berat badan tidak naik, anak harus segera dirujuk kepuskesmas

8.    Jika anak sudah mencapai berat badan 7 kg dan telah diberimakanan orang dewasa, akan tetapi berat badannya tidak naik,maka anak harus kembali diberi makanan formula seperti semula

9.    Dalam mempersiapkan dan memberikan makanan formula, harus selalu dijaga kebersihannya, antara lain : mencuci tangan sebelummemasak, alat makan harus selalu dicuci terlebih dahulu, bahanmakanan harus dimasak, harus selalu menggunakan air yangsudah dimasak

10. Bila menggunakan produk hasil industri, gunakan jenis produkmakanan bayi untuk umur 4 bulan keatas, dan untuk anak dibawah4 bulan bila ada indikasi medis anak diberi susu formula.

2.12 KOMPLIKASI GIZI BURUK

Pada penderita gangguan gizi sering terjadi gangguan asupan vitamin dan mineral. Karena begitu banyaknya asupan jenis vitamin dan mineral yang terganggu dan begitu luasnya fungsi dan organ tubuh yang terganggu maka jenis gangguannya sangat banyak.

Pengaruh KEP bisa terjadi pada semua organ sistem tubuh. Beberapa organ tubuh yang sering terganggu adalah saluran cerna, otot dan tulang, hati, pancreas, ginjal, jantung, dan gangguan hormonal.Anemia gizi adalah kurangnya kadar Hemoglobin pada anak yang disebabkan karena kurangnya asupan zat Besi (Fe) atau asam Folat. Gejala yang bisa terjadi adalah anak tampak pucat, sering sakit kepala, mudah lelah dan sebagainya.

Pengaruh sistem hormonal yang terjadi adalah gangguan hormon kortisol, insulin, Growht hormon (hormon pertumbuhan) Thyroid Stimulating Hormon meninggi tetapi fungsi tiroid menurun. Hormon-hormon tersebut berperanan dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan tersering mengakibatkan kematian (Sadewa, 2008).

Mortalitas atau kejadian kematian dapat terjadi pada penderita KEP, khususnya pada KEP berat. Beberapa penelitian menunjukkan pada KEP berat resiko kematian cukup besar, adalah sekitar 55%. Kematian ini seringkali terjadi karena penyakit infeksi (seperti Tuberculosis, radang paru, infeksi saluran cerna) atau karena gangguan jantung mendadak. Infeksi berat sering terjadi karena pada KEP sering mengalami gangguan mekanisme pertahanan tubuh. Sehingga mudah terjadi infeksi atau bila terkena infeksi beresiko terjadi komplikasi yang lebih berat hingga mengancam jiwa (Nelson, 2007).

Selain itu ada juga komplikasi yang lain,yaitu:

1.    Hipotemi

Hipotermia adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh di bawah 35 °C.Tubuh manusia mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu antara 36,5-37,5 °C. Di luar suhu tersebut, respon tubuh untuk mengatur suhu akan aktif menyeimbangkan produksi panas dan kehilangan panas dalam tubuh.Gejala hipotermia ringan adalah penderita berbicara melantur, kulit menjadi sedikit berwarna abu-abu, detak jantung melemah, tekanan darah menurun, dan terjadi kontraksi otot sebagai usaha tubuh untuk menghasilkan panas. Pada penderita hipotermia moderat, detak jantung dan respirasi melemah hingga mencapai hanya 3-4 kali bernapas dalam satu menit. Pada penderita hipotermia parah, pasien tidak sadar diri, badan menjadi sangat kaku, pupil mengalami dilatasi, terjadi hipotensi akut, dan pernapasan sangat lambat hingga tidak kentara (kelihatan).

2.    Hipoglikemi

Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah hingga dibawah 60 mg/dl. Padahal kinerja tubuh,terutam otak dan sistem syaraf,membutuhkan glukosa dalam darah yang berasal dari makanan berkarbohidrat dalam kadar yang cukup. Kadar gula darah normal adalah 80-120 mg/dl pada kondisi puasa,100-180 mg/dl pada kondisi setelah makan

3.    Infeksi

Infeksi adalah kolonalisasi yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan bersifat pilang membahayakan inang. Organisme penginfeksi, atau patogen, menggunakan sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak diri, yang pada akhirnya merugikan inang. Patogen mengganggu fungsi normal inang dan dapat berakibat pada luka kronik, gangrene, kehilangan organ tubuh, dan bahkan kematian. Respons inang terhadap infeksi disebut peradangan. Secara umum, patogen umumnya dikategorikan sebagai organisme mikroskopik, walaupun sebenarnya definisinya lebih luas, mencakup bakteri, parasit, fungi, virus, prion, dan viroid.

4.    Diare dan Dehidrasi

Diare adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses yang masih memiliki kandungan air berlebihan.

5.    Syok

Syok adalah suatu keadaan dimana pasokan darah tidak mencukupi

untuk kebutuhan organ-organ di dalam tubuh. Shock juga didefinisikan sebagai

gangguan sirkulasi yang mengakibatkan penurunan kritis perfusi jaringan vital atau menurunnya volume darah yang bersirkulasi secara efektif.

6.    ISPA

Infeksi saluran napas akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan, hidung, sinus, faring, atau laring.

7.    Cacingan

Cacingan adalah kumpulan gejala gangguan kesehatan akibat adanya cacing parasit di dalam tubuh.Penyebab kecacingan yang populer adalah cacing pita, cacing kremi, dan cacing tambang.

8.    Tuberkulosis

Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosi.

9.    Malaria

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bernama Plasmodium. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit tersebut. Di dalam tubuh manusia, parasit Plasmodium akan berkembang biak di organ hati kemudian menginfeksi sel darah merah.

3 komentar:

  1. Nice info, Sangat bermanfaat. Bagi anda yang memiliki masalah penyakit kelamin, anda bisa mengunjungi klinik Apollo untuk melakukan pemeriksaan. Klinik Apollo merupakan penyedia layanan kesehatan berbasis klinik yang menangani masalah penyakit kulit dan kelamin yang terletak di daerah Jakarta pusat. bekerja sama dengan berbagai rumah sakit serta klinik Internasional, juga ditunjang peralatan medis canggih serta dokter ahli spesialis yang sudah berpengalaman dibidangnya, anda bisa mengunjungi klinik apollo untuk melakukan pemeriksaan dan mendapatkan penanganan segera.

    Jika Anda memiliki pertanyaan seputar penyakit kelamin yang anda rasakan, jangan ragu untuk bertanya pada kami karena isi konsultasi aman terjaga, privasi pasien terlindugi, dan anda bisa tenang berkonsultasi langsung dengan kami. Anda dapat menghubungi hotline di (021)-62303060 untuk berbicara dengan ahli Klinik Apollo, atau klik website bawah ini untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis klinik Apollo.

    Wartadokter
    klinikkesehatan
    kesehatankelamin

    BalasHapus