Sabtu, 18 Mei 2013

FISIOLOGI DARAH



3.1 Definisi darah
          Darah merupakan suatu suspensi partikel dalam suatu larutan koloid cair yang mengandung elektrolit, sebagai transpor masal berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal atau antara sel-sel itu sendiri, transpor semacam ini esensial untuk mempertahankan homeostasis. Memiliki karakteristik yakni: temperature rata-rata 38° C, viskositas lima kali lebih besar dari viskositas air. PH alkali, 7.35 - 7.45 volume : 5,5 L (pria), 5 L (wanita), memiliki berat 8% dari berat badan. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya.

3.2 Fungsi darah

a.  Transportasi dari gas yang terlarut, nutrisi, hormone dan zat sisa metabolic, sebagai alat pengangkut yaitu:
·       Mengambil oksigen/ zat pembakaran dari paru-paru untuk diedarkan keseluruh jaringan tubuh.
·       Mengangkut karbon dioksida dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru.
·       Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan dibagikan ke seluruh jaringan/ alat tubuh.
·       Mengangkat / mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui ginjal dan kulit.
·       Mengedarkan hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar endokrin yang dilakukan oleh plasma darah.
b.   Regulasi dari pH dan komposisi dari cairan intersisial. Sebagai pengatur regulasi yaitu : Mempertahankan PH dan konsentrasi elektrolit pada cairan interstitial melalui pertukaran ion-ion dan molekul pada cairan interstitial. 

c.       Restriksi dari kehilangan cairan pada daerah yang luka.  


d. Pertahanan melawan toxin dan patogen.
  Darah Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit dan racun dalam tubuh dengan perantaraan leukosit dan antibodi untuk mempertahankan tubuh terhadap invasi mikroorganisme dan benda asing (leukosit) dan proses homeostatis (trombosit).

e.   Termoregulasi (pengatur suhu tubuh)
   Menyebarkan panas keseluruh tubuh, darah mengatur suhu tubuh melalui transport panas menuju kulit dan paru-paru.


  
3.3 Komposisi darah
3.3.1 Darah terdiri atas 2 komponen utama :
a.       Plasma darah : bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektroit, dan protein darah.
Ø  Plasma protein terdiri dari albumin (58%), globulin α, β, γ (38%), fibrinogen (4%), other solutes 2%.

b.      Formed elements, yang terdiri atas :
Ø  Eritrosit : sel darah merah (SDM)-red blood cell (RBC)
Ø  Leukosit : sel darah putih (SDP)-white blood cell (WBC)
Ø  Trombosit : butir pembeku-platelet
Gambar 1  : Komponen plasma darah, Komponen Formed elements

   Tabel 1 : Konstituen darah dan fungsinya
               KONSTITUEN
                   FUNGSI
Plasma
1. Air
Medium transportasi; mangangkut panas
2. Elektrolit
Eksitabilitas membran; distribusi osmotik cairan intrasel dan ekstrasel; manyangga perubahan pH
3. Nutrien, zat sisa, gas, hormon
Diangkut dalam darah; gas CO2  darah berperan dalam keseimbangan asam-basa
4. Protein plasma
Secara umum, menimbulkan efek osmotic yang penting dalam distribusi cairan ekstrasel antara kompartemen vaskuler dan intestisium; menyangga perubahan pH
4.1 Albumin
Mengangkut banyak zat; memberi kontribusi terbesar bagi tekanan osmotik koloid
4.2 Globulin

4.2.1 Alfa dan Beta
Mengangkut banyak zat; factor pembekuan; molekul precursor inaktif
4.2.2 Gama
Antibodi
4.3 Fibrinogen
Prekursor inaktif untuk jaringan fibrin pada bekuan darah
Elemen Selular
1. Eritrosit
Mengangkut O2 dan CO2 (terutama O2)
2. Leukosit
2.1 Neutrofil
Fagosit yang memakan bakteri dan debris
2.2 Eosinofil
Menyerang cacing parasit; penting dalam reaksi alergi
2.3 Basofil
Mengeluarkan histamin, yang penting dalam reaksi alergi, dan heparin yang membantu membersihkan lemak dari darah dan mungkin berfungsi sebagai antikoagulan
2.4 Monosit
Dalam transit untuk menjadi makrofag jaringan
2.5 Limfosit
2.5.1 Limfosit B
Pembentukan antibodi
2.5.2 Limfosit T
Respons imun seluler
3. Trombosit
Hemostasis



3.4                 Hemopoesis (hematopoesis)
                Tabel 2 : Tempat hemopoesis

Umur
Tempat hemopoesis

Janin
0-3 bulan
Yolk sac
3-6 bulan
Hati dan limpa
4-9 bulan
Sumsum tulang
Bayi
Sumsum tulang (semua bagian tulang)
Dewasa
Os.Vertebrae,Costae,Sternum,Cranium,Sacrum,Pelvis
Ujung proksimal os.femur

Pada orang dewasa dalam keadaan fisiologik sema hemopoesis terjadi pada sumsum tulang. Dalam keadaan patologik, seperti pada mielofibrosis, hemopoesis terjadi di luar sumsum tulang, terutama di lien, disebut sebagai hemopoesis ekstramoduler. Untuk kelangsungan hemopoesis diperlukan:
1.      Sel induk hematopoietic (hematopoietic stem cell)
Sel induk hemopoetik ialah sel-sel yang akan berkembang menjadi sel-sel darah, termasuk sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), butir pembeku (trombosit), dan juga beberapa sel dalam sumsum tulang seperti fibroblast. Sel induk yang paling primitive disebut sebagai pluripoten (totipoten) stem cell.
2.      Lingkungan mikro (microenviromentment) sumsum tulang
Lingkungan mikro sumsum tulang adalah substansi yang memungkinkan sel induk tumbuh secara kondusif. Lingkungan mikro sangat penting dalam hemopoesis karena berfungsi untuk berikut :
a.       Menyediakan nutrisi dan bahan hemopoesis yang dibawa oleh peredaran darah mikro dalam sumsum tulang.
b.      Komunikasi antar sel (cell to cell communication), terutama ditentukan oleh adanya adhesion molecule.
c.       Menghasilkan zat yang mengatur hemopoesis : hematopoetic growth factor, cytokine, dan lain-lain.
3.      Bahan-bahan pembentuk darah, Bahan-bahan yang diperlukan untuk pembentukan darah adalah :
a.       Asam folat dan vitamin B12 : merupakan bahan pokok pembentukan inti sel.
b.      Besi : sangat diperlukan dalam pembentukan hemoglobin
c.       Cobalt, magnesium, cu, zn
d.      Vitamin lain : vitamin C, B kompleks, dan lain-lain.

4.      Mekanisme regulasi
Mekanisme regulasi sangat penting untuk mengatur arah dan kuantitas pertumbuhan sel dan pelepasan sel darah yang matang dari sumsum tulang ke darah tepi sehingga sumsum tulang dapat merespon kebutuhan tubuh dengan tepat. Produksi komponen darah yang berlebihan ataupun kekurangan (defisiensi) sama-sama menimbulkan penyakit.   
3.5 Sistem Eritroid
Eritrosit hidup dan beredar dalam darah tepi (life) span rata-rata selama 120 hari. Setelah 120 hari eritrosit mengalami proses penuaan (senescence) kemudian dikeluarkan dari sirkulasi oleh system RES. Apabila destruksi eritrosit sebelum waktunya(<120 hari) maka proses ini disebut sebagai hemolisis.

Gambar 2: Hemopoiesis (pembentukan darah)
a.       Struktur Eritrosit
Eritrosit matang merupakan suatu cakram bikonkaf dengan diameter sekitar 7 mikron. Eritrosit merupakan sel dengan struktur yang tidak lengkap. Sel ini hanya terdiri atas membrane dan sitoplasma tanpa inti sel.
Komponen eritrosit terdiri atas :
1)      Membran eritrosit
2)      Sistem enzim yang terpenting dalam Embden Meyerhoff pathway : pyruvate kinase, dalam pentose pathway : enzim G6PD (glucose 6-phospate dehidrogenase)

3)      Hemoglobin : berfungsi sebagai alat angkut oksigen. Komponennya terdirir atas :
a)      Heme : yang merupakan gabungan protoporfirin dengan besi
b)      Globin : bagian protein yang terdiri atas 2 rantai alfa dan 2 rantai beta.
Perubahan struktur eritrosit akan menimbulkan kelainan. Kelainan yang timbul karena kelainan membran disebut sebagai membranopati, kelainan akibat gangguan sistem enzim eritrosit disebut ensimopati, sedangkan kelainan akibat gangguan struktur hemoglobin disebut sebagai hemoglobinopati.
b.      Destruksi Eritrosit
Destruksi yang terjadi karena proses penuaan disebut proses senescene, sedangkan destruksi patologik disebut hemolisis. Hemolisis dapat terjadi intravaskuler, dapat juga ekstravaskuler, terutama pada sistem RES, yaitu lien dan hati.
Hemolisis yang terjadi pada eritrosit akan mengakibatkan terurainya komponen-komponen hemoglobin menjadi berikut:
1)      Komponen protein yaitu globin yang akan dikembalikan ke pool protein dan dapat dipakai kembali.
2)      Komponen heme akan pecah menjadi dua, yaitu :
Ø  Besi : yang akan dikembalikan ke pool besi dan dipakai ulang.
Ø  Bilirubin : yang akan disekresikan melalui hati dan empedu.

Gambar 3: Skema destruksi eritrosit


Referensi:
1.      Sherwood, lauralee. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 6. 2012. jakarta: EGC.
2.      Bakta, I made. Hematologi Klinik ringkas. 2012. Jakarta: EGC.
3.      www.scribd.com/-fisiologi-hematologi/direct/48376519.

1 komentar:

  1. dapus gambar hemopoesisnya yg mna ya...

    BalasHapus