Rabu, 09 November 2011

Komunikasi dokter dengan pasien

            Komunikasi efektif diharapkan dapat mengatasi kendala yang ditimbulkan oleh kedua pihak, pasien dan dokter. Opini yang menyatakan bahwa mengembangkan komunikasi dengan pasien hanya akan menyita waktu dokter, tampaknya harus diluruskan.
            Sebenarnya bila dokter dapat membangun hubungan komunikasi yang efektif dengan pasiennya, banyak hal-hal negatif dapat dihindari.
Kurtz (1998) menyatakan bahwa komunikasi efektif justru tidak memerlukan waktu lama. Komunikasi efektif terbukti memerlukan lebih sedikit waktu karena dokter terampil mengenali kebutuhan pasien (tidak hanya ingin sembuh). Dalam pemberian pelayanan medis, adanya komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien merupakan kondisi yang diharapkan sehingga dokter dapat melakukan manajemen pengelolaan masalah kesehatan bersama pasien, berdasarkan kebutuhan pasien.

            Tujuan dari komunikasi efektif antara dokter dan pasiennya adalah untuk mengarahkan proses penggalian riwayat penyakit lebih akurat untuk dokter, lebih memberikan dukungan pada pasien, dengan demikian lebih efektif dan efisien bagi keduanya (Kurtz, 1998).

·           Sesi Penyampaian Informasi
Setelah sesi sebelumnya dilakukan dengan akurat, maka dokter dapat sampai kepada sesi memberikan penjelasan. Tanpa informasi yang akurat di sesi sebelumnya, dokter dapat terjebak kedalam kecurigaan yang tidak beralasan. Secara ringkas ada 6 (enam) hal yang penting diperhatikan agar efektif dalam berkomunikasi dengan pasien, yaitu:
1. Materi Informasi apa yang disampaikan
a. Tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik (kemungkinan rasa tidak        nyaman/sakit saat pemeriksaan).
b.   Kondisi saat ini dan berbagai kemungkinan diagnosis.
c. Berbagai tindakan medis yang akan dilakukan untuk menentukan         diagnosis, termasuk manfaat, risiko, serta kemungkinan efek     samping/komplikasi.
d.   Hasil dan interpretasi dari tindakan medis yang telah dilakukan untuk menegakkan diagnosis.
e.   Diagnosis, jenis atau tipe. (??)
f.    Pilihan tindakan medis untuk tujuan terapi (kekurangan dan kelebihan           masingmasing cara).
g.   Prognosis.
h.   Dukungan (support) yang tersedia.

2. Siapa yang diberi informasi
a.   Pasien, apabila dia menghendaki dan kondisinya memungkinkan.
b.   Keluarganya atau orang lain yang ditunjuk oleh pasien.
c. Keluarganya atau pihak lain yang menjadi wali/pengampu dan   bertanggung jawab atas pasien kalau kondisi pasien tidak             memungkinkan untuk berkomunikasi sendiri secara langsung

3. Berapa banyak atau sejauh mana
a.   Untuk pasien: sebanyak yang pasien kehendaki, yang dokter merasa perlu untuk disampaikan, dengan memerhatikan kesiapan mental             pasien.
b.   Untuk keluarga: sebanyak yang pasien/keluarga kehendaki dan           sebanyak yang dokter perlukan agar dapat menentukan tindakan       selanjutnya.

4.   Kapan menyampaikan informasi
      Segera, jika kondisi dan situasinya memungkinkan.

5.   Di mana menyampaikannya
a.   Di ruang praktik dokter.
b.   Di bangsal, ruangan tempat pasien dirawat.
c.   Di ruang diskusi.
d.   Di tempat lain yang pantas, atas persetujuan bersama,     pasien/keluarga dan dokter.

6. Bagaimana menyampaikannya
a.   Informasi penting sebaiknya dikomunikasikan secara langsung, tidak melalui telpon, juga tidak diberikan dalam bentuk tulisan yang dikirim melalui pos, faksimile, sms, internet.
b.   Persiapan meliputi: materi yang akan disampaikan (bila diagnosis, tindakan medis, prognosis sudah disepakati oleh tim); ruangan yang nyaman, memperhatikan privasi, tidak terganggu orang lalu lalang, suara gaduh dari tv/radio, telepon; waktu yang cukup; mengetahui orang yang akan hadir (sebaiknya pasien ditemani oleh keluarga/orang yang ditunjuk; bila hanya keluarga yang hadir sebaiknya lebih dari satu orang).
c.   Jajaki sejauh mana pengertian pasien/keluarga tentang hal yang akan           dibicarakan.
d.   Tanyakan kepada pasien/keluarga, sejauh mana informasi yang           diinginkan dan amati kesiapan pasien/keluarga menerima informasi             yang akan diberikan.
           
·         Kiat menyampaikan informasi
-       Tanyakan, apakah ada yang dikhawatirkannya.
-       Gunakan bahasa yang mudah dimengerti, sesuai tingkat pemahamannya (usia, latar belakang pendidikan, sosial budaya)
-       Tidak dianjurkan memakai bahasa atau menggunakan istilah kedokteran. Kalaupun harus menggunakannya, beri penjelasan dan padanan katanya (kalau memang ada).
-       Tidak perlu tergesa-gesa dan sekaligus, pemberian informasi bisa dilakukan secara bertahap.
-       Jika menyampaikan berita buruk, gunakan kata atau kalimat persiapan atau pendahuluan, misalnya, “Boleh saya minta waktu untuk menyampaikan sesuatu?” untuk melihat apakah dia (yang diajak berkomunikasi) siap mendengar berita tersebut.
-       Hindari memakai kata-kata yang bersifat mengancam, seperti “Kalau tidak melakukan anjuran saya, kalau ada apa-apa jangan datang ke saya”.
-       Gunakan kata atau kalimat yang menimbulkan semangat atau meyakinkannya.
-       Ulangi pesan yang penting.
-       Pastikan pasien/keluarga mengerti apa yang disampaikan.
-       Menanggapi reaksi psikologis yang ada, terlihat dari ucapan atau sikap dan dengan empati. ”Saya dapat mengerti jika ibu khawatir”.
-       Menyimpulkan apa yang telah disampaikan.
-       Beri kesempatan pasien/keluarga untuk bertanya, jangan memonopoli pembicaraan.
-       Berikan nomor telpon yang bisa dihubungi jika sewaktu-waktu diperlukan.

·         Contoh sikap dokter ketika menerima pasien
-       Menyilakan masuk dan mengucapkan salam.
-       Memanggil/menyapa pasien dengan namanya.
-       Menciptakan suasana yang nyaman (isyarat bahwa punya cukup waktu, menganggap penting informasi yang akan diberikan, menghindari tampak lelah).
-       Memperkenalkan diri, menjelaskan tugas/perannya (apakah dokter umum, spesialis, dokter keluarga, dokter paliatif, konsultan gizi, konsultan tumbuh kembang, dan lainlain).
-       Menilai suasana hati lawan bicara
-       Memperhatikan sikap non-verbal (raut wajah/mimik, gerak/bahasa tubuh) pasien
-       Menatap mata pasien secara profesional yang lebih terkait dengan makna menunjukkan perhatian dan kesungguhan mendengarkan.
-       Memperhatikan keluhan yang disampaikan tanpa melakukan interupsi yang tidak perlu.
-       Apabila pasien marah, menangis, takut, dan sebagainya maka dokter tetap menunjukkan raut wajah dan sikap yang tenang.
-       Melibatkan pasien dalam rencana tindakan medis selanjutnya atau pengambilan keputusan.
-       Memeriksa ulang segala sesuatu yang belum jelas bagi kedua belah pihak.
-       Melakukan negosiasi atas segala sesuatu berdasarkan kepentingan kedua belah pihak.
-       Membukakan pintu, atau berdiri ketika pasien hendak pulang.

·         Contoh Hasil Komunikasi Efektif
-       Pasien merasa dokter menjelaskan keadaannya sesuai tujuannya berobat.
-       Berdasarkan pengetahuannya tentang kondisi kesehatannya, pasien pun mengerti anjuran dokter, misalnya perlu mengatur diet, minum atau menggunakan obat secara teratur, melakukan pemeriksaan (laboratorium, foto/rontgen, scan) dan memeriksakan diri sesuai jadwal, memperhatikan kegiatan (menghindari kerja berat, istirahat cukup, dan sebagainya).
-       Pasien memahami dampak yang menjadi konsekuensi dari penyakit yang dideritanya (membatasi diri, biaya pengobatan), sesuai penjelasan dokter.
-       Pasien merasa dokter mendengarkan keluhannya dan mau memahami keterbatasan kemampuannya lalu bersama mencari alternatif sesuai kondisi dan situasinya, dengan segala konsekuensinya.
-       Pasien mau bekerja sama dengan dokter dalam menjalankan semua upaya pengobatan/perawatan kesehatannya.

·         Contoh Hasil Komunikasi Tidak Efektif:
-       Pasien tetap tidak mengerti keadaannya karena dokter tidak menjelaskan, hanya mengambil anamnesis atau sesekali bertanya, singkat dan mencatat seperlunya, melakukan pemeriksaan, menulis resep, memesankan untuk kembali, atau memeriksakan ke laboratorium/foto rontgen, dan sebagainya.
-       Pasien merasa dokter tidak memberinya kesempatan untuk bicara, padahal ia yang merasakan adanya perubahan di dalam tubuhnya yang tidak ia mengerti dan karenanya ia pergi ke dokter. Ia merasa usahanya sia-sia karena sepulang dari dokter ia tetap tidak tahu apa-apa, hanya mendapat resep saja.
-       Pasien merasa tidak dipahami dan diperlakukan semata sebagai objek, bukan sebagai subjek yang memiliki tubuh yang sedang sakit.
-       Pasien ragu, apakah ia harus mematuhi anjuran dokter atau tidak.
-       Pasien memutuskan untuk pergi ke dokter lain.
Pasien memutuskan untuk pergi ke pengobatan alternatif atau komplementer atau menyembuhkan sendiri (self therapy).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar