Selasa, 08 November 2011

PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

Pengertian
            Problem Based Learning (PBL) merupakan metoda pembelajaran berdasarkan pada prinsip penggunaan kasus (masalah) sebagai titik pangkal untuk mendapatkan dan mengintegrasikan ilmu pengetahuan yang baru (HS. Barrows, 1982).  Pengertian lain dikemukan oleh Albanese dan Mitchel (1993) PBL adalah metoda instruksional yang ditandai oleh penggunaan  masalah  pasien sebagai konteks untuk mahasiswa mempelajari kemampuan memecahkan masalah dan mendapatkan pengetahuan tentang ilmu-ilmu dasar kedokteran dan klinik. PBL adalah belajar dengan memanfaatkan masalah dan mahasiswa harus melakukan pencarian atau penggalian informasi (inquiry) untuk memecahkan masalah tersebut.

Sejarah
Sejarah PBL sebenarnya telah dimulai pada tahun 1920 ketika itu Celestine Freinet, seorang guru SD yang baru kembali dari Perang Dunia I kembali kekampung halamannya di sebuah pedesaan di Barsur-loup di bagian tenggara Perancis. Ia menderita cedera yang serius dan menyebabkannya tak bisa bernafas panjang. Ia sangat ingin mengajar kembali di SD tetapi ia tida sanggup untuk bersuara keras dan lama. Sebagai gantinya ia menggunakan metoda lain menggantikan metoda tradisional yang biasanya dianut ketika itu. Ia meminta murid-muridnya untuk belajar mandiri dan ia hanya memfasilitasi saja. Inilah awal pertama cikal bakal PBL diperkenalkan. Sejarah PBL modern dimuali pada awal tahun 1970 di Mc Master University Faculty of Health Science di Kanada. Sejak itu PBL dipakai secara luas di banyak negara.

Mengapa PBL
            Ada beberapa alasan mengapa PBL digunakan dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi yaitu
  1. Seorang lulusan tidak dapat menaggulangi masalah yang dihadapinya hanya dengan menggunakan satu disiplin ilmu. Ia harus mampu menggunakan dan memadukan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah dipunyai atau mencari ilmu pengetahuan yang dibutuhkannya dalam rangka menanggulangi masalahnya.
Melalui PBL yang diawali dengan pemberian masalah pemicu kepada mahasiswadapat menerapkan suatu model pembelajaran secara spiral (spiral learning model) dengan memilih konsep dan prinsip yang terdapat dalam sejumlah cabang ilmu, sesuai kebutuhan masalah. Dengan diberi sejumlah masalah pemicu, diharapkan sebagian besar/seluruh materi cabang ilmu dicakup.  
  1. Integrasi antara berbagai konsep/prinsip/informasi cabang ilmu dapat terjadi
  2. Kemampuan mahasiswa untuk secara terus menerus melakukan “up-dating” / pengembangan pengetahuannya tercapai
  3. Perilaku sebagai seorang “ life long learner” dapat tercapai
  4. Langkah-langkah PBL yang dilaksanakan melalui diskusi kelompok dapat menghasilkan sejumlah ketrampilan sebagai berikut
    1. ketrampilan penelusuran kepustakaan
    2. ketrampilan membaca
    3. ketrampilan/kebiasaan membuat catatan
    4. kemampuan kerjasama dalam kelompok
    5. ketrampilan berkomunikasi
    6. keterbukaan
    7. berpikir analitik
    8. kemandirian dan keaktifan belajar
    9. wawasan dan keterpaduan ilmu pengetahuan
  5. Dapat mengimbangi kecepatan informasi atau ilmu pengetahuan yang sangat cepat.



2.    Tujuan
a)    Membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa
b)    Membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah dan ketrampilan intelektual, belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui perlibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri.
3.    Ciri-ciri PBL
a)    Belajar  dimulai dengan suatu masalah
b)    Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata
c)    Mengorganisasikan pelajaran di seputar masalah
d)    Memberikan tanggung jawab yang besar kepada pembelajar
e)    Menggunakan kelompok kecil
f)     Menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja

Menurut Wina Sanjaya dalam bukunya Strategi Pembelajaran Berorientasi standar proses pendidikan, menyebutkan bahwa dalam PBL/ pembelajaran berbasis masalah ini mempunyai 3 ciri utama, yaitu
1.  PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBL tidak mengharapkan siswa yang hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafasl metri pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
2.  Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBL Menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran, Artinya tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3.  Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berfikir deduktif dan induktif.

4.  Strategi
Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan :
a.   Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh
b.   Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemmapuan dalam membuat judgment secara objektif
c. Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa
d.  Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya
e.  Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan)

5. Hakikat Masalah dalam PBL
      PBL dan strategi pembelajaran inkuiri (SPI) memiliki perbedaan, perbedaan tersebut terletak pada jenis masalah serta tujuan yang ingin dicapai. Masalah dalam SPI adalah masalah yang bersifat tertutup, artinya jawaban dari masalah itu sudah pasti, oleh sebab itu jawaban dari masalah yang dikaji itu sebenarnya guru sudah mengetahui dan memahaminya, namun guru tidak secara langsung menyampaikannya kepada siswa. Dalam SPI tugas guru pada dasarnya menggiring siswa melalui proses Tanya jawab pada jawaban yang sebenarnya sudah pasti. Tujuan yang ingin dicapai oleh SPI adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa tentang jawaban dari suatu masalah.
            Berbeda dengan SPI, masalah dalam PBL adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa, bahkan guru dapat mengembangkan kemungkinan jawaban. Dengan demikian, PBL memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Yujuan yang ingin dcapai adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis dan logis untuk menemukan alternative pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.
            Kriteria pemilihan bahan pelajaran dalam PBL :
a)    Bahan pelajaran harus mengundang isu-isu yang mengandung konflik yang bisa bersumber dari berita, rekaman video dan yang lainnya
b)    Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familier dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik
c)    Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa manfaatnya
d)    Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku
e)    Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.

6.    Tahapan  PBL
Menurut Jarot Subandono, inti dari kegiatan metode belajar Problem Based Learning ini ada pada diskusi tutorial. Terdapat tujuh langkah yang harus dilakukan dalam diskusi tutorial, yang disebut dengan Seven Jumps. Deskripsi dari ketujus langkah tersebut adalah sebagai berikut :

Langkah 1.  
Menjelaskan istilah yang belum diketahui
                            Proses           : Mahasiswa menentukan beberapa kata yang artinya kurang/belum jelas, anggota kelompok yang lain mungkin dapat memberikan definisinya/penjelasannya. Mahasiswa sebaiknya dikondisikan agar merasa “aman/safe” dalam berpendapat sehingga memungkinkan mereka “jujur” tentang segala hal yang belum dipahaminya.
                          Alasan           : Istilah yang belum diketahui berlaku sebagai suatu “penghambat” untuk dipahami. Penjelasan yang hanya sebagian saja dipahami/tidak menyeluruh sekalipun, dapat untuk memulai proses pembelajaran.
                          Hasil Tertulis           :Kata-kata/istilah yang artinya belum dapat disetujui oleh kelompok, harus didaftar sebagai tujuan pembelajaran.
                          Perhatian                  : Mahasiswa kadang-kadang terjebak terlalu lama diskusi pada langkah 1 ini sehingga waktunya hampir habis dan mengalami fenomena mengibarkan bendera, maka sebaiknya istilah asing dijelaskan secukupnya saja.

Langkah 2
Menetapkan permasalahan
                     Proses           : Tahap ini merupakan suatu pembahasan terbuka dimana mahasiswa didorong agar menyumbangkan pendapatnya tentang permasalahan yang ada dalam bentuk diskusi. Tutor harus mendorong/memotivasi mereka semua untuk menyumbangkan analisis  secara cepat dan luas.
                     Alasan           : Dimungkinkan bagi setiap anggota kelompok tutorial untuk mempunyai pandangan yang berbeda terhadap suatu masalah. Membandingkan dan mengumpulkan pendapat yang luas akan memperkaya khasanah intelektual  dari permasalahan yang dibahas tersebut.
Hasil Tertulis           : Daftar pokok-pokok persoalan untuk dijelaskan.

Langkah 3
Curah pendapat/brainstorming tentang hipotesis atau penjelasan yang ada.
                        Proses           : Merupakan kelanjutan dari pembahasan secara terbuka, namun sekarang mahasiswa mencoba untuk merumuskan, menguji dan membandingkan keunggulan secara relatif dari hipotesis yang ada sebagai penjelasan permasalahan atau kasus. Tutor perlu untuk mempertahankan diskusi pada taraf hipotesis dan tidak dianjurkan menuju pada hal-hal yang terlalu detil/terperinci secara cepat. Dalam hal ini:
a.      Hipotesis berarti suatu pengandaian yang dibuat sebagai dasar untuk membuat alasan tentang kebenaran ilmiah atau sebagai titik awal bagi penyelidikan lebih lanjut.
b.      Penjelasan artinya, menjadikan tahu secara terperinci dan membuatnya dapat dimengerti, dengan suatu maksud untuk menimbulkan saling pengertian.
                        Alasan:          Tahap ini merupakan langkah yang penting, yang mendorong digunakannya pembelajaran dari tahap sebelumnya berdasarkan pengetahuan atau ingatan/memori sebelumnya (prior knowledge) dan membiarkan mahasiswa untuk menguji pemahaman yang telah dimilikinya satu sama lain. Hubungan/ mata rantai dapat terbentuk antara pokok-pokok persoalan dari pengetahuan yang belum lengkap yang ada dalam kelompok tersebut. Jika dapat ditangani dengan baik oleh tutor dan grupnya, tahap ini dapat  menempatkan pembelajaran pada tingkat pemahaman yang lebih baik.
Hasil Tertulis        : Daftar hipotesis atau penjelasan.
Masalah   : prior knowledge mahasiswa sering diragukan tutor.

Langkah 4
Menyusun penjelasan dalam suatu pemecahan masalah/ solusi sementara.
                    Proses           : Mahasiswa akan memikirkan sebanyak mungkin penjelasan yang berbeda dari apa yang sedang terjadi. Permasalahan diperiksa dengan teliti secara terperinci dan dibandingkan dengan usulan hipotesis atau penjelasan, untuk melihat bagaimana mereka akan mencocokkan dan jika diperlukan eksplorasi lebih lanjut. Tahap ini merupakan permulaan proses dari penjelasan tujuan pembelajaran/Learning Objective (LO), walaupun tidak dianjurkan bagi mahasiswa untuk merekam dengan segera dalam bentuk tulisan.
                    Alasan           : Tahap ini memproses secara aktif dan menstruktur kembali pengetahuan yang ada dan mengenali kesenjangan pemahaman. Mencatat tujuan pembelajaran (LO) secara cepat akan menghalangi/menghambat pemikiran dan memperpendek proses berpikir intelektual dan menghasilkan tujuan yang terlalu luas dan superfisial.
                        Hasil Tertulis: tahap ini meliputi pengorganisasian penjelasan tentang permasalahan, menunjukkannya secara skematis, mencoba untuk menghubungkan ide-ide baru diantara sesama teman, dengan pengetahuan yang dimiliki dan dengan susunan kata-kata/konteks yang berbeda. Proses ini menyediakan suatu hasil visual tentang hubungan antara bagian-bagian informasi yang berbeda dan memfasilitasi ”penyimpanan ” informasi dalam ingatan jangka panjang.

Langkah 5
Menjelaskan Tujuan Pembelajaran (LO)
                            Proses           : Kelompok menyetujui  tujuan pembelajaran yang akan dipelajari oleh semua mahasiswa. Tutor mendorong mereka agar dapat fokus, untuk tidak terlalu luas atau superfisial dan dapat tercapai dalam waktu yang tersedia. Beberapa mahasiswa mungkin mempunyai tujuan pembelajaran (LO) yang tidak dibagikan kepada seluruh anggota kelompok oleh karena kebutuhan dan ketertarikan secara individual/pribadi.
                        Alasan           : Proses membentuk kesepakatan menggunakan kemampuan segenap kelompok tutorial (termasuk tutor) untuk menyusun diskusi selanjutnya dalam tujuan pembelajaran yang tepat/cocok dan dapat dicapai. Dalam hal ini tidak hanya menjelaskan tujuan pembelajaran namun juga membawa kelompok secara bersama-sama dan menyimpulkan diskusi.
                            Hasil Tertulis           : Tujuan Pembelajaran, hal ini merupakan hasil utama dari pekerjaan awal kelompok dalam PBL. Tujuan Pembelajaran seharusnya/ disarankan dalam bentuk persoalan pokok/isu yang ditujukan terhadap pertanyaan atau hipotesis yang spesifik.

Langkah 6
Pengumpulan Informasi dan belajar mandiri
                   Proses           : Tahap ini meliputi pencarian bahan dalam buku teks, mengumpulkan hasil pencarian literatur elektronik dari Internet, konsultasi pakar atau hal-hal lainnya yang dapat membantu menyediakan informasi yang sedang dicari oleh mahasiswa. Suatu proses PBL yang diorganisasikan dengan baik akan mencakup penyelenggaraan kursus atau adanya buku panduan blok yang menyediakan saran-saran dalam bagaimana caranya memperoleh sumber-sumber pembelajaran spesifik yang mungkin sukar untuk didapatkan/diakses, supaya jangan terjadi fenomena CBSA seperti di tingkat SMU..
                   Alasan           : Secara jelas, suatu bagian penting dari proses pembelajaran dalam pengumpulan dan perolehan informasi baru, dimana mahasiswa mengerjakannya secara individual maupun bersama-sama.
Hasil Tertulis: Catatan individual dan kelompok mahasiswa

Langkah 7
Membagi/ Berbagi hasil pengumpulan informasi dan belajar mandiri
                   Proses           : Hal ini membutuhkan waktu beberapa hari (sekitar 3 hari) setelah pertemuan tahap I (langkah 1-5). Mahasiswa mulai kembali pada daftar tujuan pembelajaran. Pertama-tama mereka mengidentifikasi/mengenali sumber belajar yang didapatnya sendiri, mengumpulkan informasi yang mereka dapat dari belajar mandiri dan membantu teman-teman lainnya memahami dan mengenali hal-hal yang susah selanjutnya/kemudian, untuk dipelajari lebih lanjut atau dengan bantuan pakar. Mahasiswa mencoba untuk melakukan dan menghasilkan analisis yang menyeluruh dari permasalahan yang ada.
                 Alasan           : Pada tahap ini menyusun apa yang telah dikerjakan kelompok, menggabungkan pembelajaran dan mengenali daerah/area yang belum pasti, yang memungkinkan untuk pembelajaran lebih lanjut. Pembelajaran mungkin tidak berakhir secara menyeluruh dan berakhir secara terbuka, Namur hal ini sungguh/ memang diperlukan kehati-hatian/ tidak terburu-buru karena mahasiswa seharusnya kembali ke topik-topik pembicaraan tersebut ketika pencetus/trigger yang cocok muncul kembali di kemudian hari.
Hasil Tertulis: Catatan individual mahasiswa / laporan

Keunggulan dan Kelemahan PBL
a.    Keunggulan
1) Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran
2)   Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa
3)  Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa
4)  Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembanhkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses
5)  Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran merupakan cara berpikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
6)  Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa
7) Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru
8)  Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata
9)  Pemecahan masalah dapat mengembangkan  minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir

b.    Kelemahan
1)   Jika siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba
2)   Keberhasilan strategi pembelajarn melalui problem based learning membutuhkan cukup waktu untuk persiapan
3)   Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar